RSS

CERPEN: SENJA DI MATA BAYU II

26 Jan

Nafas Bayu terdengar terengah-engah. Bajunya benar-benar basah kuyup.
“Kakak tidak akan tinggal disini lagi. Kakak harus pergi. Secepatnya!”ucap Bayu.
“Kenapa kak? Sekarang hujan turun sangat deras, kakak istirahat saja dulu” tanya Ehsan.
“Aku tahu. Kakak sedang dicari oleh sekelompok orang. Aku lihat foto kakak di koran.” ungkap Rahmat sambil memperlihatkan sebuah koran dalam genggamannya.
Bayu segera mengambil koran tersebut, ekspresi wajahnya berubah, antara sedih dan sesal.
“Pokoknya, kakak mau pergi dari sini!”
“Tunggu kak! Ehsan ikut.”
“Aku ikut!” ucap Rahmat.
“Aku juga ikut!” si pendiam Dodi ikut berbicara.
Akhirnya Bayu dan ketiga anak kecil tersebut keluar dari gubuk kumuh tempat mereka tinggal. Hujan yang turun sangat deras tidak menghalangi perjalanan mereka.

***
Suasana di rumah makan khas sunda itu terlihat ramai. Bayu termenung. 8 tahun sudah Bayu tinggal di Bekasi dan mengelola rumah makan ini. Meskipun Bayu hanya sekolah sampai kelas 1 SMA, tetapi dia sangat berbakat dalam berusaha, terutama di bidang waralaba. Sekarang dia cukup kaya dan dewasa. Saat ini umurnya 23 tahun. Ehsan, Rahmat dan Dodi masih setia tinggal bersama Bayu. Mereka layaknya sebuah keluarga.
Bayu menyadari, dia harus benar-benar berterima kasih kepada Pak Warman, sosok yang telah mengajarinya berbagai banyak hal, dari mulai ilmu memasak sampai ilmu agama. Namun sudah lama Bayu tidak bertemu dengan Pak Warman, semenjak dirinya pergi dari Kota Sukabumi.
Bayu kemudian membuka dompetnya, terlihat sebuah foto sepasang suami istri. Itu adalah foto orang tuanya. Perasaan Bayu terasa miris. Antara rindu dan malu. Rindu kepada ayah dan ibunya, tapi juga malu untuk kembali pada mereka. Bayu tahu, begitu gigih usaha orang tuanya untuk mencari dirinya. Sampai-sampai banyak yang mengincar dirinya, karena wajahnya pernah terpampang di suatu media cetak.
Tiba-tiba seorang pembeli datang menuju ke arahnya. Menyerahkan beberapa lembar uang. Bayu menerima uang tersebut. Namun ketika mau memberikan kembalian, uang di lacinya raib semua. Menghilang tanpa sisa.

***
Sudah seminggu Ehsan belum pulang juga. Bayu terlihat khawatir.
“Kakak jangan terlalu khawatir. Ehsan kan laki-laki. Insya Allah dia gak kenapa-napa.” Dodi mencoba menghibur Bayu.
“Gak tahu kenapa perasaan kakak gak enak. Kita kan sudah nyari dia kemana-mana. Tapi hasilnya?”
Dodi terdiam.
“Akhir-akhir ini banyak kejadian aneh. Uang kakak sering hilang seiring kelakuan Ehsan yang semakin aneh.” lanjut Bayu.
“Assalamu’alaikum.” Terdengar suara seseorang dari balik pintu rumah.
“Itu kan suara Ehsan! Wa.. wa wa’alaikumsalam..” Bayu segera berlari menuju pintu.

***

“Astaghfirullah..” teriak Rahmat.
“Ada apa?” seru Bayu sambil berlari menghampiri Rahmat.
Rahmat hanya terpaku di depan pintu kamar Ehsan.
Bayu segera memasuki kamar Ehsan. Alangkah kagetnya Bayu. Ehsan kejang-kejang dengan hebat. Tampak suatu cairan keluar dari mulut dan hidung Ehsan. Ehsan seperti tanpa sadar membentur-benturkan tubuhnya ke dinding.

***
Bayu terpaku melihat batu nisan itu. Matanya berkaca-kaca
“Sebelum semuanya terlambat, segera kembalilah ke orang tuamu.” Terdengar suara seseorang di belakangnya.
Bayu sangat kaget. Suara itu sangat dikenalnya. Suara Pak Warman!
“Pak Warman!!” Bayu segera mendekap pria separuh baya tersebut.
“Heh, bocah? Sekarang kamu sudah sebesar ini. Kenapa baru sekarang kembali ke kota Sukabumi? Seenaknya saja kamu kabur dari kota ini.”
“Maaf, Pak. Kan sekarang saya ada disini, sekalian menjalankan amanat dari Ehsan. Ehsan pernah bercerita, apabila dia meninggal, dia ingin dimakamkan di Sukabumi, tempat ayah dan ibunya di makamkan.”
“Oh ya, kok Pak Warman masih ingat dengan saya? Dulu saya kan masih kecil.” Lanjut Bayu.
“Ya jelas, saya masih ingat kamu. Tahi lalat di pipimu itu ciri khas sekali.”
“Pak, saya benar-benar menyesal. Saya gak bisa menjaga Ehsan dengan baik. Ehsan sudah saya anggap adik sendiri. Ehsan terjerumus dalam narkoba.”
“Sekarang kamu tahu kan rasanya kehilangan seseorang yang kamu cintai? Begitupun orang tuamu. Saya gak bisa membayangkan perasaan kedua orang tua yang kehilangan anaknya selama beberapa tahun.”

***
Tak banyak yang berubah dari keadaan rumah yang ada didepan Bayu. Langkahnya terasa berat. Namun akhirnya dia pun masuk ke rumah tersebut. Seorang wanita setengah baya tampak begitu kaget melihat kedatangan Bayu.

***
Perlahan Bayu mendorong kursi roda yang diduduki ibunya. Suasana senja kali ini begitu sejuk, namun kesejukan itu tak bisa dirasakan Bayu.
“Ayahmu suka sakit-sakitan semenjak kepergianmu. Dia merasa sangat bersalah sama kamu. Meski dalam keadaan sakit, dia selalu berusaha mencarimu. Karena kelelahan, akhirnya ayahmu sakit parah dan tidak bisa kemana-mana. Setahun yang lalu, ayahmu pun wafat.” Suara ibu Bayu terdengar lirih.
“Maafkan Bayu, bu.. maaf..” Bayu tak kuasa membendung tangisnya. Di dalam hatinya dia bertekad tidak akan mengulangi kesalahan terbesarnya. Dosanya begitu besar. Bukan hanya pada orang tua, tetapi kepada Rabb-nya.
Bayu pun kemudian menatap langit senja. Bayangan raut almarhum ayahnya seperti terlihat di langit senja tersebut. Hal itu membuat dia semakin sedih.
“Maafkan Bayu, ayah. Bayu sadar, begitu banyak kesalahan yang Bayu lakukan. Semoga ayah berada di tempat yang sebaik-baiknya di sisi Allah. Insya Allah, ibu akan aku selalu aku jaga. ..”

The end

^_^ (Trisma Oktavia Pasha)

 
3 Comments

Posted by on January 26, 2010 in cerpen

 

3 responses to “CERPEN: SENJA DI MATA BAYU II

  1. damzone89

    January 26, 2010 at 2:55 am

    bagus….

     
  2. trisma oktavia

    January 31, 2010 at 8:14 am

    syukran ^_^

     
  3. damzone89

    February 26, 2010 at 2:09 pm

    kalo sempet, mampir2 ke blog aku…

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: