RSS

Monthly Archives: February 2010

SEPUTIH HATI NAJWA 3

Kegelisahan Wulan langsung memudar ketika melihat keceriaan di wajah Najwa. Tangan kiri Najwa memegang erat sebuah boneka panda besar, sedangkan tangan kanannya memegang es krim coklat. Di belakang Najwa tampak Bagas yang membawa beberapa kantong plastik. Wulan kemudian bercakap-cakap sebentar dengan Bagas, setelah itu Bagas pun pergi.

“Tadi ngapain aja sama ayah, sayang? Jujur mama khawatir sama kamu!” ujar Wulan sambil membelai rambut Najwa.

“Tadi Najwa diajak main ke rumah ayah, terus belanja-belanja deh di mall!”

“Oh ya?”

“Iyaaa.. Ma, ternyata ayah sekarang berubah. Ayah sekarang baiiik banget sama Najwa. Terus ayah sekarang shalatnya rajin. Najwa senaangg!!” ungkap Najwa dengan ceria.

“Memang Najwa sudah gak marah lagi sama ayah?”

“Allah aja Maha Pemaaf, Ma. Masa Najwa, enggak. Malu donk Najwa sama Allah.”

Mendengar hal itu Wulan merasa takjub.

“Syukurlah.. Mama juga turut senang. Ucapkan Alhamdulillah..”

“Alhamdulillah.. Eh Ma, Najwa pengen ayah tinggal di  rumah. Sekarang Najwa gak mau Mama sama Ayah berpisah!”

Mendengar hal itu Wulan sangat kaget, dadanya berdegup kencang.

“Mm.. tadi Najwa dibelikan apa saja oleh ayah?” Wulan mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Tadi Najwa dibeliin baju-baju, boneka sama es krim!”

Wulan mencoba menyimak apa yang dikatakan Najwa. Wajar bila sekarang Bagas membelikan ini itu pada Najwa, toh Bagas dulu tidak pernah menafkahi keluarga, pikir Wulan.

***

Wulan tak bisa memungkiri apa yang sedang dia rasakan. Perlahan-lahan perasaan kagum muncul kepada Bagas. Rasa trauma itu semakin menjauh dari hati dan pikirannya. Bagas berbeda dari yang dulu. Akhlak Bagas yang sekarang santun dan sangat menyayangi Najwa membuat Wulan tak bisa menemukan alasan untuk menolak Bagas. Apalagi Najwa sangat berharap dirinya bisa bersatu lagi dengan Bagas. Wulan sudah mantap akan menerima kembali Bagas dan menolak ajakan ta’aruf dari kakaknya Indah.

***

“Ma, hari ini Najwa mau menginap di rumah ayah, boleh kan? Nanti siang ayah mau menjemput Najwa.” ungkap Najwa saat mau berangkat sekolah.

“Iya boleh, sayang.”

Tengah malam handphone Wulan berdering. Rupanya bibi yang menelepon. Wulan tampak sangat kaget menerima telepon dari bibinya tersebut.

***

Gelapnya malam tak menghalangi Wulan untuk terus berlari dan berlari, perasaannya sangat kacau dan gelisah. Tak lama kemudian tampak kerumunan orang berkumpul di depan suatu rumah yang tampak diselimuti api merah membara. Petugas pemadam kebakaran tampak sibuk berusaha memadamkan api.

Wulan tak bisa menahan diri, dia ingin masuk ke dalam rumah yang terbakar tersebut, namun orang-orang berusaha untuk menahannya. Akhirnya Wulan tak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa berdoa dan menangis.

Api ganas tersebut akhirnya padam. Wulan segera berlari menuju rumah kontrakan tersebut, orang-orang berusaha mencegah apa yang dilakukan Wulan tetapi Wulan tak peduli. Setelah lama mencari dia menemukan kursi roda Najwa. Disebelah kursi roda tersebut tampak sesosok orang yang sedang menelungkup. Mungkinkah itu Bagas? tanya Wulan pada dirinya sendiri. Wulan segera mendekati sosok tersebut. Sosok itu tampak memeluk seorang anak kecil.  Seakan-akan melindungi anak kecil tersebut dari kobaran api.

“Najwaaa!!” teriak Wulan.

Wulan segera melepas Najwa dari pelukan Bagas. Najwa tampak batuk-batuk dan tak berkata apapun. Najwa hanya menangis dan langsung memeluk mamanya. Najwa tak terluka sedikit pun namun Bagas terlihat mengalami luka yang sangat serius. Bagas mengorbankan dirinya untuk melindungi Najwa.

Dua hari dari peristiwa kebakaran tersebut Bagas meninggal, padahal rencananya minggu depan Najwa dan Bagas akan melangsungkan pernikahan.

Setelah kejadian itu Najwa jadi sering menangis, Najwa yang dulu selalu terlihat tegar kini tampak rapuh.

“Najwa, jangan sedih terus. Mama jadi ikut sedih dan jangan-jangan ayahmu disana jadi ikut sedih. Insya Allah, ayah kamu husnul khotimah. Yang terpenting kamu jadi anak yang sholehah, pinter, senang berbagi dan jangan lupa selalu mendoakan ayahmu, ya?” ujar Wulan sambil menghapus air mata Najwa.

Mendengar hal itu Najwa menghela nafas dengan berat.

***

Shalat magrib kali ini terasa begitu berbeda, begitu khusyuk dan sangat indah. Sesosok pria tampak mengimami Wulan dan Najwa. Setelah shalat magrib dan dizikir selesai, Wulan segera mencium tangan pria yang tak lain adalah suaminya. Wulan dan pria itu pun saling memandang, tampak pancaran cinta bersinar dari paras kedua orang tersebut. Najwa yang melihat hal itu tersenyum cekikikan.

Di luar hujan turun sangat deras, namun rumah terasa hangat. Sehangat cinta kasih keluarga tersebut.

Kini kehadiran Farhan yang merupakan kakak dari Indah membuat hidup Wulan dan Najwa semakin berwarna. Meskipun bagi Najwa, Bagas tak kan tergantikan oleh yang lain, namun Najwa percaya Farhan bisa menjadi suami yang baik untuk ibunya dan bisa menjadi ayah yang bisa membimbingnya ke arah yang lebih baik.

Alhamdulillah tamat ^_^

By Trisma Oktavia

 
Leave a comment

Posted by on February 8, 2010 in cerpen

 

SEPUTIH HATI NAJWA 2

Gang sempit yang dilewati Indah terasa begitu kumuh. Beberapa anak tampak berlari-lari dengan kencang, salah satu dari anak tersebut hampir saja menubruk Indah. Namun suasana terasa tampak berbeda ketika di depan suatu rumah. Rumah itu terlihat sederhana namun tampak rapih dan bersih. Indah yakin ini adalah rumah muridnya, Najwa.

Seorang perempuan tua menyambut kedatangan Indah dengan ramah dan mempersilakannya masuk. Tak lama kemudian datang Wulan sambil membawa secangkir teh manis.

“Bu, bagaimana keadaan Najwa? Suasana kelas agak sepi ketika Najwa tidak masuk kelas.” tanya Indah.

“Alhamdulillah kondisi Najwa udah agak baikan.”

“Boleh saya lihat Najwa?” tanya Indah lagi.

“Mmm.. bo.. boleh..” ungkap Wulan agak sedikit ragu.

Najwa tampak terbaring di tempat tidurnya, dia mencoba tersenyum menyambut kedatangan gurunya. Begitulah Najwa, anak yang murah senyum dan jarang mengeluh.

“Bu, suhu badan Najwa tinggi sekali. Harus segera dibawa ke dokter!”

“Tapi.. saya.. saya gak punya uang, neng.” Ungkap Wulan.

“Sudahlah, Bu. Itu urusan gampang.”

Wulan tak bisa memendam kesedihannya. Sepulang dari dokter, dia menceritakan apa yang telah dia alami kepada Indah. Kemarin, uangnya dicuri oleh seseorang. Wulan yakin pencuri uang itu adalah mantan suaminya, karena ibunya pernah berkata bahwa akhir-akhir ini mantan suaminya tersebut sering mengamati keadaan rumah. Wulan pun menceritakan bagaimana kehidupannya selama ini sebagai seorang single parent.

Indah menjadi lebih tahu sosok Wulan. Semakin lama dia semakin kagum pada perempuan tegar tersebut. Meski Wulan seorang single parent dia bisa mendidik Najwa menjadi seorang anak yang shalehah. Tiba-tiba timbul keinginan di hati Indah kalau Wulan menjadi bagian dari keluarganya. Indah ingin Wulan menjadi pendamping orang terdekatnya.

***

“Jadi dia yang mau kamu kenalkan sama kakakmu?” tanya Rina.

“Iya, memang kenapa?” ungkap Wulan.

“Cantik sih. Tapi…”

“Tapi kenapa? Jangan lihat dari penampilannya saja, tapi akhlaknya. Dia memang bukan aktivis dakwah, tapi Insya Allah, dia perempuan yang shalehah.”

“Terus apa kakakmu tidak keberatan dengan statusnya yang seorang janda?”

“Itu masalahnya. Aku belum tahu!”

***

“Apa?!?” ekspresi Wulan terlihat sangat kaget.

“Percayalah Wulan. Dia sudah berubah sekarang. Aku yang jadi tetangganya merasakan sekali perubahan sikapnya. Sekarang dia orang yang baik dan sangat aktif mengikuti kegiatan keagamaan.”

“Bi, jujur aku tidak mau memikirkan hal itu dulu!”

“Wulan, pikirkan anakmu Najwa. Dia butuh sosok ayah dalam hidupnya!”

Wulan menghela napas dengan berat. Rupanya bibinya tersebut tidak mampu merasakan apa yang selama ini dia rasakan. Rasa trauma yang mendalam itu masih melekat dalam diri Wulan. Mendengar nama Bagas di telinganya saja sudah membuat Wulan merinding, apalagi jika Bagas kembali menjadi suaminya.

“Percayalah Wulan, mana mungkin bibi membohongimu dan menjerumuskanmu!” Ucapnya untuk lebih meyakinkan lagi.

***

Wulan baru saja menerima telepon dari Indah. Apa yang diungkapkan Indah di telepon membuat Wulan benar-benar terkejut dan bingung. Kakaknya Indah ingin berta’aruf dengannya.

“Ya Rabbi, bila Engkau akan mengaruniakan aku seorang pendamping, aku ingin sesosok imam yang bisa membimbingku menjadi hamba-Mu yang lebih baik,  aku ingin sesosok ayah yang baik bagi Najwa. Namun, bila Engkau berkehendak lain, biarlah aku dengan kesendirianku menjadi hamba yang senantiasa mengharap cinta hanya kepada-Mu.” Lirih Wulan.

Bersambung ^_^

By Trisma Oktavia Pasha

 
Leave a comment

Posted by on February 5, 2010 in cerpen