RSS

SEPUTIH HATI NAJWA 2

05 Feb

Gang sempit yang dilewati Indah terasa begitu kumuh. Beberapa anak tampak berlari-lari dengan kencang, salah satu dari anak tersebut hampir saja menubruk Indah. Namun suasana terasa tampak berbeda ketika di depan suatu rumah. Rumah itu terlihat sederhana namun tampak rapih dan bersih. Indah yakin ini adalah rumah muridnya, Najwa.

Seorang perempuan tua menyambut kedatangan Indah dengan ramah dan mempersilakannya masuk. Tak lama kemudian datang Wulan sambil membawa secangkir teh manis.

“Bu, bagaimana keadaan Najwa? Suasana kelas agak sepi ketika Najwa tidak masuk kelas.” tanya Indah.

“Alhamdulillah kondisi Najwa udah agak baikan.”

“Boleh saya lihat Najwa?” tanya Indah lagi.

“Mmm.. bo.. boleh..” ungkap Wulan agak sedikit ragu.

Najwa tampak terbaring di tempat tidurnya, dia mencoba tersenyum menyambut kedatangan gurunya. Begitulah Najwa, anak yang murah senyum dan jarang mengeluh.

“Bu, suhu badan Najwa tinggi sekali. Harus segera dibawa ke dokter!”

“Tapi.. saya.. saya gak punya uang, neng.” Ungkap Wulan.

“Sudahlah, Bu. Itu urusan gampang.”

Wulan tak bisa memendam kesedihannya. Sepulang dari dokter, dia menceritakan apa yang telah dia alami kepada Indah. Kemarin, uangnya dicuri oleh seseorang. Wulan yakin pencuri uang itu adalah mantan suaminya, karena ibunya pernah berkata bahwa akhir-akhir ini mantan suaminya tersebut sering mengamati keadaan rumah. Wulan pun menceritakan bagaimana kehidupannya selama ini sebagai seorang single parent.

Indah menjadi lebih tahu sosok Wulan. Semakin lama dia semakin kagum pada perempuan tegar tersebut. Meski Wulan seorang single parent dia bisa mendidik Najwa menjadi seorang anak yang shalehah. Tiba-tiba timbul keinginan di hati Indah kalau Wulan menjadi bagian dari keluarganya. Indah ingin Wulan menjadi pendamping orang terdekatnya.

***

“Jadi dia yang mau kamu kenalkan sama kakakmu?” tanya Rina.

“Iya, memang kenapa?” ungkap Wulan.

“Cantik sih. Tapi…”

“Tapi kenapa? Jangan lihat dari penampilannya saja, tapi akhlaknya. Dia memang bukan aktivis dakwah, tapi Insya Allah, dia perempuan yang shalehah.”

“Terus apa kakakmu tidak keberatan dengan statusnya yang seorang janda?”

“Itu masalahnya. Aku belum tahu!”

***

“Apa?!?” ekspresi Wulan terlihat sangat kaget.

“Percayalah Wulan. Dia sudah berubah sekarang. Aku yang jadi tetangganya merasakan sekali perubahan sikapnya. Sekarang dia orang yang baik dan sangat aktif mengikuti kegiatan keagamaan.”

“Bi, jujur aku tidak mau memikirkan hal itu dulu!”

“Wulan, pikirkan anakmu Najwa. Dia butuh sosok ayah dalam hidupnya!”

Wulan menghela napas dengan berat. Rupanya bibinya tersebut tidak mampu merasakan apa yang selama ini dia rasakan. Rasa trauma yang mendalam itu masih melekat dalam diri Wulan. Mendengar nama Bagas di telinganya saja sudah membuat Wulan merinding, apalagi jika Bagas kembali menjadi suaminya.

“Percayalah Wulan, mana mungkin bibi membohongimu dan menjerumuskanmu!” Ucapnya untuk lebih meyakinkan lagi.

***

Wulan baru saja menerima telepon dari Indah. Apa yang diungkapkan Indah di telepon membuat Wulan benar-benar terkejut dan bingung. Kakaknya Indah ingin berta’aruf dengannya.

“Ya Rabbi, bila Engkau akan mengaruniakan aku seorang pendamping, aku ingin sesosok imam yang bisa membimbingku menjadi hamba-Mu yang lebih baik,  aku ingin sesosok ayah yang baik bagi Najwa. Namun, bila Engkau berkehendak lain, biarlah aku dengan kesendirianku menjadi hamba yang senantiasa mengharap cinta hanya kepada-Mu.” Lirih Wulan.

Bersambung ^_^

By Trisma Oktavia Pasha

 
Leave a comment

Posted by on February 5, 2010 in cerpen

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: