RSS

SEPUTIH HATI NAJWA 3

08 Feb

Kegelisahan Wulan langsung memudar ketika melihat keceriaan di wajah Najwa. Tangan kiri Najwa memegang erat sebuah boneka panda besar, sedangkan tangan kanannya memegang es krim coklat. Di belakang Najwa tampak Bagas yang membawa beberapa kantong plastik. Wulan kemudian bercakap-cakap sebentar dengan Bagas, setelah itu Bagas pun pergi.

“Tadi ngapain aja sama ayah, sayang? Jujur mama khawatir sama kamu!” ujar Wulan sambil membelai rambut Najwa.

“Tadi Najwa diajak main ke rumah ayah, terus belanja-belanja deh di mall!”

“Oh ya?”

“Iyaaa.. Ma, ternyata ayah sekarang berubah. Ayah sekarang baiiik banget sama Najwa. Terus ayah sekarang shalatnya rajin. Najwa senaangg!!” ungkap Najwa dengan ceria.

“Memang Najwa sudah gak marah lagi sama ayah?”

“Allah aja Maha Pemaaf, Ma. Masa Najwa, enggak. Malu donk Najwa sama Allah.”

Mendengar hal itu Wulan merasa takjub.

“Syukurlah.. Mama juga turut senang. Ucapkan Alhamdulillah..”

“Alhamdulillah.. Eh Ma, Najwa pengen ayah tinggal di  rumah. Sekarang Najwa gak mau Mama sama Ayah berpisah!”

Mendengar hal itu Wulan sangat kaget, dadanya berdegup kencang.

“Mm.. tadi Najwa dibelikan apa saja oleh ayah?” Wulan mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Tadi Najwa dibeliin baju-baju, boneka sama es krim!”

Wulan mencoba menyimak apa yang dikatakan Najwa. Wajar bila sekarang Bagas membelikan ini itu pada Najwa, toh Bagas dulu tidak pernah menafkahi keluarga, pikir Wulan.

***

Wulan tak bisa memungkiri apa yang sedang dia rasakan. Perlahan-lahan perasaan kagum muncul kepada Bagas. Rasa trauma itu semakin menjauh dari hati dan pikirannya. Bagas berbeda dari yang dulu. Akhlak Bagas yang sekarang santun dan sangat menyayangi Najwa membuat Wulan tak bisa menemukan alasan untuk menolak Bagas. Apalagi Najwa sangat berharap dirinya bisa bersatu lagi dengan Bagas. Wulan sudah mantap akan menerima kembali Bagas dan menolak ajakan ta’aruf dari kakaknya Indah.

***

“Ma, hari ini Najwa mau menginap di rumah ayah, boleh kan? Nanti siang ayah mau menjemput Najwa.” ungkap Najwa saat mau berangkat sekolah.

“Iya boleh, sayang.”

Tengah malam handphone Wulan berdering. Rupanya bibi yang menelepon. Wulan tampak sangat kaget menerima telepon dari bibinya tersebut.

***

Gelapnya malam tak menghalangi Wulan untuk terus berlari dan berlari, perasaannya sangat kacau dan gelisah. Tak lama kemudian tampak kerumunan orang berkumpul di depan suatu rumah yang tampak diselimuti api merah membara. Petugas pemadam kebakaran tampak sibuk berusaha memadamkan api.

Wulan tak bisa menahan diri, dia ingin masuk ke dalam rumah yang terbakar tersebut, namun orang-orang berusaha untuk menahannya. Akhirnya Wulan tak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa berdoa dan menangis.

Api ganas tersebut akhirnya padam. Wulan segera berlari menuju rumah kontrakan tersebut, orang-orang berusaha mencegah apa yang dilakukan Wulan tetapi Wulan tak peduli. Setelah lama mencari dia menemukan kursi roda Najwa. Disebelah kursi roda tersebut tampak sesosok orang yang sedang menelungkup. Mungkinkah itu Bagas? tanya Wulan pada dirinya sendiri. Wulan segera mendekati sosok tersebut. Sosok itu tampak memeluk seorang anak kecil.  Seakan-akan melindungi anak kecil tersebut dari kobaran api.

“Najwaaa!!” teriak Wulan.

Wulan segera melepas Najwa dari pelukan Bagas. Najwa tampak batuk-batuk dan tak berkata apapun. Najwa hanya menangis dan langsung memeluk mamanya. Najwa tak terluka sedikit pun namun Bagas terlihat mengalami luka yang sangat serius. Bagas mengorbankan dirinya untuk melindungi Najwa.

Dua hari dari peristiwa kebakaran tersebut Bagas meninggal, padahal rencananya minggu depan Najwa dan Bagas akan melangsungkan pernikahan.

Setelah kejadian itu Najwa jadi sering menangis, Najwa yang dulu selalu terlihat tegar kini tampak rapuh.

“Najwa, jangan sedih terus. Mama jadi ikut sedih dan jangan-jangan ayahmu disana jadi ikut sedih. Insya Allah, ayah kamu husnul khotimah. Yang terpenting kamu jadi anak yang sholehah, pinter, senang berbagi dan jangan lupa selalu mendoakan ayahmu, ya?” ujar Wulan sambil menghapus air mata Najwa.

Mendengar hal itu Najwa menghela nafas dengan berat.

***

Shalat magrib kali ini terasa begitu berbeda, begitu khusyuk dan sangat indah. Sesosok pria tampak mengimami Wulan dan Najwa. Setelah shalat magrib dan dizikir selesai, Wulan segera mencium tangan pria yang tak lain adalah suaminya. Wulan dan pria itu pun saling memandang, tampak pancaran cinta bersinar dari paras kedua orang tersebut. Najwa yang melihat hal itu tersenyum cekikikan.

Di luar hujan turun sangat deras, namun rumah terasa hangat. Sehangat cinta kasih keluarga tersebut.

Kini kehadiran Farhan yang merupakan kakak dari Indah membuat hidup Wulan dan Najwa semakin berwarna. Meskipun bagi Najwa, Bagas tak kan tergantikan oleh yang lain, namun Najwa percaya Farhan bisa menjadi suami yang baik untuk ibunya dan bisa menjadi ayah yang bisa membimbingnya ke arah yang lebih baik.

Alhamdulillah tamat ^_^

By Trisma Oktavia

 
Leave a comment

Posted by on February 8, 2010 in cerpen

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: