RSS

Monthly Archives: October 2010

Usaha Kecil dan Menengah (UKM)

Usaha Kecil dan Menengah disingkat UKM adalah sebuah istilah yang mengacu ke jenis usaha kecil yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. Dan usaha yang berdiri sendiri. Menurut Keputusan Presiden RI no. 99 tahun 1998 pengertian Usaha Kecil adalah: “Kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dengan bidang usaha yang secara mayoritas merupakan kegiatan usaha kecil dan perlu dilindungi untuk mencegah dari persaingan usaha yang tidak sehat.”
1. Kriteria usaha kecil menurut UU No. 9 tahun 1995 adalah sebagai berikut: Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 200.000.000,- (Dua Ratus Juta Rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha
2. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 1.000.000.000,- (Satu Miliar Rupiah).
3. Milik Warga Negara Indonesia
4. Berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang tidak dimiliki, dikuasai, atau berafiliasi baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Menengah atau Usaha Besar
5. Berbentuk usaha orang perorangan , badan usaha yang tidak berbadan hukum, atau badan usaha yang berbadan hukum, termasuk koperasi.
Pemerintah Indonesia, membina UKM melalui Dinas Koperasi dan UKM, di masing-masing Provinsi atau Kabupaten/Kota.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Laju Tumbuhnya UKM
1. Internal
a. Tidak rentan terhadap gejolak perubahan ekonomi (masa krisis)
b. Mudah masuk dan keluar (mudah dan cepat berganti bidang usaha)
c. Bersubtitusi dengan laju pertumbuhan investasi (investasi naik jadi buruh, investasi naik jadi petani/pedagang)
2. Eksternal
a. Kebijakan pemerintah dalam pemberdayaan UKM
b. Persaingan (kualitas, waktu, teknologi)

Tantangan Akuntansi UKM
1. UKM tidak memiliki sistem informasi akuntansi yang memadai
2. UKM tidak mampu membuat laporan keuangan yang sesuai dengan PSAK yang semakin rumit
3. Tanpa laporan keuangan yang sesuai dengan PSAK, UKM tidak bisa mengajukan kredit ke perbankan
4. UKM membutuhkan bantuan universitas dalam membuat laporan keuangan.

UKM dalam Menghadapi Pasar Bebas
Tidak adanya hambatan buatan (hambatan yang diterapkan pemerintah) dalam perdagangan untuk individual-individual dan perusahaan-perusahaan yang berada di negara yang berbeda, sehingga perdagangan internasional yang sering dibatasi oleh berbagai pajak Negara, biaya tambahan yang diterapkan pada barang eksport dan import, ini akan ditolak oleh perdagangan bebas.

Dampak Perdagangan Bebas
1. memungkinkan adanya kenaikan eksport Indonesia jika peluang yang ada benar-benar dimanfaatkan.
2. industri Indonesia akan babak belur karena kalah bersaing dengan barang Negara ASEAN, China yang terkenal murah.

Kapasitas UKM dalam Persaingan Bebas
1. Tantangan
• Banyak/bervariasi bisnis UKM
• Mayoritas skala ekonominya rendah dan tersebar
2. Peluang
• UKM mempunyai potensi mandiri
• Walaupun terbatas, namun punya jaringan baik domestic maupun eksport
• Melalui model kemitraan

Langkah Kebijakan Pemerintah dalam Pengembangan UKM
1. Penciptaan Iklim Usaha
• Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah
 Pasal 12
Perijinan Usaha (membebaskan biaya perijinan bagi usaha mikro)
 Pasal 13
Menetapkan bidang usaha yang dicanangkan untuk usaha mikro, kecil, dan menengah.
2. Pembinaan dan pemberdayaan UKM
• Program Dana Bergulir (melalui lembaga keuangan koperasi: KSP/USP, KJKS/UJKS
• Program Bantuan Sosial
• Program Perluasan Pelayanan KUR (20 triliun)
• Pemasyarakatan Kewirausahaan dan Pengembangan Wirausaha Baru
• Pengembangan Tempat Praktek Keterampilan Usaha
• Pengembangan Pasar Tradisional oleh Koperasi
• LPBD (Lembaga Pendanaan Dana Bergulir)
3. Insentif bagi UKM
• Untuk promosi dagang ke luar negeri
• Kemitraan usaha besar dengan usaha kecil
• Keringanan pajak atas barang dan jasa UKM
• Bunga bagi tabungan dan simpanan koperasi

4. Peran dari Pemerintah Daerah
Pembagian kewenangan Pemerintah Daerah, Provinsi, Kabupaten/Kota
• Peraturan pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 tahun 2007 tentang pembagian urusan pemerintah, pemerintah daerah, provinsi dan pemerintah daerah kabupaten dan kota.

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on October 26, 2010 in Akuntansi

 

Aku dan Secangkir Kopi

Semburat cahaya matahari di kota Yogyakarta begitu menyejukan. Hawa pagi ini terasa begitu sama dengan apa yang kualami beberapa tahun silam. Beberapa anak kecil tampak sudah mengayuh sepedanya untuk pergi ke sekolah. Seorang ibu penjual gudeg tampak bersiap-siap menuju tempat dagangannya. Kota Yogya memang banyak memberikanku kenangan, kenangan indah tepatnya.

Setelah cukup lama terdiam di depan jendela, aku melangkah ke dapur. Mataku tertuju pada sebuah cangkir berwarna putih tulang. Cangkir itu biasa digunakan almarhum kakek untuk menikmati kopi hitam kesukaannya. Aku dan kakek sama-sama menyukai kopi. Kakek menyukai kopi hitam tanpa gula, sedangkan aku menyukai kopi yang dicampur dengan krimmer. Kopi banyak berjasa padaku, kopi telah mendekatkan hubunganku dengan almarhum kakek. Aku dan kakek bisa mengobrol berjam-jam sambil menikmati kopi.

Hal terindah saat aku dengan kakek adalah ketika menikmati kopi ketika pagi hari di suatu puncak. Menikmati kopi, mengobrol, sambil sesekali membidikkan kamera memberikan suatu sensasi tersendiri. Aku seringkali membicarakan keinginanku untuk menjadi seorang fotografer pada kakek. Aku selalu bersemangat kalau membicarakan hal itu. Sedangkan kakek selalu bersemangat menceritakan pejuang-pejuang kemerdekaan ketika zaman dulu. Namun beliau bisa terlihat marah kalau membicarakan tentang politik dan pemerintahan.
Yogyakarta, kopi, almarhum kakek, fotografi adalah hal-hal yang selama ini aku rindukan. Bertahun-tahun tinggal di Jakarta untuk menimba ilmu di kedokteran membuat diriku agak stress. Sampai saat ini aku belum juga lulus, sedangkan teman-temanku yang seangkatan baru saja lulus. Hal itu membuatku semakin tidak bersemangat untuk masuk kuliah. Meskipun orangtuaku selalu memotivasiku untuk tetap bertahan, aku malah merasa semakin tertekan. Sudah kukatakan berulangkali pada mereka, aku berbeda dengan kakak-kakakku yang kini bekerja sebagai dokter.
HP-ku tiba-tiba bergetar. Ada SMS dari seorang teman lamaku.
***
“Assalamu’alaikum, Pak Dokter! Wah-wah tambah ganteng aja sekarang, hahahaha!” Dimas menjabat tanganku dengan erat dan kemudian menepuk-nepuk pundakku.
“Wa’alaikumsalam. Dimas, Dimas kau ini bisa saja. Aku belum lulus, bro!”
Menikmati kopi dengan teman lamaku di pagi ini membuatku sangat senang. Dimas sengaja berkunjung ke rumahku, kami sudah bertahun-tahun lamanya tidak bertemu.
“Aku juga belum lulus, zal. Kemaren sempat cuti seta…” tiba-tiba Dimas berhenti berbicara saat dia melihat layar laptopku.
“Kenapa?” tanyaku heran sambil ikut melihat layar laptopku.
“Bro, ini foto-foto hasil karyamu?” dengan semangat Dimass mengambil laptopku.
“Iya. Memangnya kenapa?”
“Jujur, aku suka karya-karyamu yang semakin bagus. Meskipun aku awam tentang fotografi, tapi aku tahu di setiap foto-fotomu mengandung sebuah pesan. Foto-fotomu berkarakter dan bisa menimbulkan kesan yang kuat pada orang yang melihatnya.”
“Masa sih?”
“Beneran! Kebetulan kampusku akan mengadakan lomba fotografi, pokoknya kamu harus ikut, Zal! Jangan lewatkan kesempatan ini. ” ujar Dimas yang tampak begitu bersemangat sambil sesekali menyeruput kopinya.

***

Sudah lima bulan aku tinggal di Yogya. Kuliah benar-benar aku tinggalkan. Aku sudah terlanjur betah tinggal di Yogya, menikmati hidup dengan kerja serabutan dan sekolah fotografi. Uang dari hasil lomba sudah habis, sekolah fotografi mahalnya bukan main.

Banyak hal yang aku sesalkan dalam hidup ini. Aku terlalu banyak mengecewakan orang tua, aku tidak bisa memenuhi apa yang mereka inginkan. Sudah banyak biaya yang mereka keluarkan untuk menyekolahkanku di kedokteran. Tapi inilah jalan yang kupilih. Pernah menjuarai lomba fotografi mungkin bisa membuat mereka sedikit bangga. Hidup mandiri dan sekolah fotografi dengan biaya sendiri mungkin bisa membuat mereka sedikit percaya padaku.

***

1 tahun kemudian
Dimas tersinyum simpul saat membuka foto album pernikahannya. Dia menepuk pundakku dengan semangat dan berkata:
“Semoga studio fotomu senantiasa sukses, Bro! Suatu saat nanti kita ngopi bareng lagi ya”

By Trisma Oktavia
Tasikmalaya, 20-10-2010

 
5 Comments

Posted by on October 20, 2010 in cerpen

 

Laporan Keuangan Sebagai Dasar Pengambilan Keputusan

Laporan keuangan merupakan hasil pencatatan, merupakan pengelompokkan, pengikhtisaran, catatan data, penerapan prinsip-prinsip, dan kebiasaan akuntansi serta penggunaan data pengalaman pribadi penyusunannya yang digunakan perusahaan sebagai alat komunikasi untuk menunjukkan hal-hal yang telah dilakukan manajemen dalam mengelola sumber daya yang dipercayakan kepadanya dan dalam mencapai target yang telah diterapkan kepada para pihak yang memiliki kepentingan terhadap kelangsungan usaha perusahaan tersebut seperti investor, kreditur, pelanggan, dan lain-lain.
Laporan keuangan dewasa ini, dituntut untuk tidak hanya dapat mencerminkan kinerja keuangan suatu perusahaannnya saja tetapi juga dituntut agar dapat menggambarkan dampak yang lebih jauh lagi dari kebijakan yang telah diambil oleh manajemen perusahaan dan prospeknya dimasa yang akan datang. Oleh karena itu, laporan keuangan diwajibkan untuk dapat memenuhi semua karakteristik kualitatif pokok yang telah ditetapkan didalam Standar Akuntansi Keuangan (SAK) sehingga informasi yang disajikan dalam laporan keuangan terjamin kualitasnya. Berdasarkan laporan keuangan tersebut, pemakai jasa akuntansi dapat mengambil keputusan yang tepat atas peristiwa yang terjadi selama periode pembukuan berjalan.
Para pemakai informasi akuntansi melalui neraca dapat mengetahui dampak keuangan dari transaksi-transaksi atau kejadian ekonomi yang terjadi selama periode yang bersangkutan terhadap stabilitas perusahaan secara keseluruhan. Melalui informasi yang disajikan dalam neraca, para pemakai dapat membuat suatu keputusan ekonomi mengenai rencana atau strategi selanjutnya akan dipakai demi menjaga usaha kelangsungan tersebut. Untuk mengetahui posisi keuangan dan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba pemakai dapat melihat laporan laba rugi. Pemakai dapat mengidentifikasi dengan segera prosfek perusahaan dimasa yang akan datang dan apakah akan melanjutkan atau menghentikan aliran investasinya.
Transaksi atau peristiwa ekonomi yang terjadi membawa pengaruh yang berbeda-beda terhadap posisi keuangan perusahaan dan juga terhadap modal yang dimiliki perusahaan. Untuk mengetahui dengan lebih jelas, pemakai dapat melihatnya didalam laporan perubahan modal. Informasi yang disajikannnya dapat digunakan untuk mengendalikan dan atau mengawasi aktiva-aktiva yang dimiliki perusahaan sebagai modal kelngsungan usaha.
Laporan arus kas dan catatan atas laporan keuangan dapat digunakan sebagai rujukan para pemakai dalam mengambil suatu keputusan ekonomi dengan menilai apakah kinerja keuangannya sehat dan seimbang, dan apakah segala sesuatunya telah sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Apabila telah sesuai, perusahaan dapat menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dan memenuhi berbagai kewajibannya sehingga tingkat profabilitas dan akuntabilitasnya dapat membuat investor percaya sepenuhnya.
Adapun pihak-pihak yang memerlukan informasi akuntansi di antaranya dapat diuraikan sebagai berikut.
1. Pihak Intern atau Pimpinan Perusahaan (Manajer)
Bagi manajer perusahaan, informasi akuntansi digunakan untuk menyusun perencanaan dan pengawasan terhadap operasional perusahaan atau jalannya perusahaan, mengevaluasi kemajuan yang dicapai dalam usaha mencapai tujuan, dan melakukan tindakan koreksi yang diperlukan.
2. Pihak Ekstern Perusahaan
Selain pihak perusahaan, masih terdapat pihak-pihak lain di luar perusahaan yang memerlukan informasi akuntansi. Pihakpihak tersebut di antaranya sebagai berikut.
a. Investor atau Calon Investor
Para investor melakukan penanaman modal dalam suatu perusahaan dengan tujuan untuk mendapatkan bagian laba. Investor atau calon investor memerlukan informasi akuntansi untuk membantu menentukan apakah harus membeli atau menjual investasi tersebut.
b. Karyawan
Karyawan dan kelompok yang mewakili mereka membutuhkan informasi akuntansi untuk mengetahui stabilitas dan profitabilitas perusahaan. Selain itu, informasi akuntansi tersebut juga diperlukan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memberikan balas jasa (gaji), manfaat pensiun, dan pembukaan lapangan pekerjaan atau kebutuhan tenaga kerja.
c. Pemberi Pinjaman (Bank)
Pemberi pinjaman hanya bersedia memberikan kreditnya kepada suatu perusahaan yang dipandang mampu mengembalikan atau mengangsur pinjaman beserta bunganya pada saat jatuh tempo atau tepat pada waktunya.
d. Pemasok atau Kreditur Lainnya
Pemasok atau kreditur lain tertarik dengan informasi akuntansi yang memungkinkan mereka untuk memutuskan apakah jumlah yang terutang akan dibayar pada saat jatuh tempo. Kreditur usaha berkepentingan pada perusahaan dalam tenggang waktu yang lebih pendek daripada pemberi pinjaman, kecuali jika sebagai pelanggan utama mereka tergantung pada kelangsungan hidup perusahaan.
e. Pelanggan
Pelanggan membutuhkan informasi akuntansi untuk kelangsungan hidup perusahaan, terutama jika mereka terlibat dalam perjanjian jangka panjang dengan perusahaan.
f. Pemerintah
Pemerintah dan berbagai lembaga yang berada di bawah kekuasaannya berkepentingan dengan alokasi sumber daya dan informasi akuntansi untuk menetapkan kebijakan pajak, dan sebagai dasar untuk menyusun statistik pendapatan nasional dan statistik lainnya.
g. Masyarakat
Perusahaan memengaruhi masyarakat dengan berbagai cara, di antaranya perusahaan dapat memberikan kontribusi yang berarti pada perekonomian nasional, termasuk jumlah orang yang dipekerjakan dan perlindungan kepada penanam modal domestik.

 
Leave a comment

Posted by on October 16, 2010 in Akuntansi

 

Pertemuan Terakhir di Kala Pagi

Siang kali ini begitu panas. Orang-orang yang ada di dalam angkutan umum tak ubahnya seperti kue-kue yang berjejer di dalam oven. Mereka semua terdiam berdesak-desakan. Chairul berulangkali mengusap keningnya yang bercucuran keringat. Kemudian dia mengikat rambut ikalnya yang agak gondrong.

Pikiran Chairul berjalan tak tentu arah. Akhir-akhir ini dia begitu merasa melankolis. Sebenarnya dia sangat malu harus pulang sekarang. Dia malu pada ibunya yang sudah renta. Tapi kota Jakarta seakan ingin mengusirnya. Seolah-olah orang yang tak berguna semacam dia tidaklah pantas untuk tinggal di kota besar itu. Dia merasa hidupnya telah hancur. Sri, orang yang selama ini dia harapkan akan menjadi istrinya kini telah menikah dengan orang lain. Kisah cintanya yang memilukan membuatnya tidak semangat lagi bekerja. Usaha dagangnya hancur. Kini uangnya sudah habis. Ongkos pulang pun dia dapatkan dari hasil menghutang kepada temannya.

Suasana kampung halaman tidak banyak berubah. Beberapa orang tampak menyapa Chairul dengan ramah. Suasana seperti ini membuat dirinya merasa sedikit terhibur, setidaknya orang-orang di kampung halamannya senang dengan kedatangan dirinya. Tiba-tiba dia berpapasan dengan seorang gadis. Gadis tersebut tampak malu-malu tersenyum padanya, tak lama kemudian menunduk dan langsung pergi. Chairul baru teringat siapa gadis itu. Dia adalah Halimah.

Kini Chairul berdiri di depan rumahnya yang sangat sederhana. Dia agak ragu untuk masuk. Namun pintu rumahnya tiba-tiba terkuak. Sosok yang selama ini dia rindukan kini ada di hadapannya. Dengan cepat dia memeluk ibunya.

***

Malam ini Chairul tidak bisa tidur sama sekali. Dia kemudian membuka jendela kamarnya. Suasana desa di malam ini begitu sepi. Sayup-sayup dia mendengar sesuatu di kamar sebelah. Rintihan doa ibunya cukup terdengar jelas ditelinganya.

Setelah cukup lama terdiam, dia tak kuasa membendung tangisnya. Dia baru menyadari kalau ibunya begitu sangat menyayanginya. Padahal dirinya sendiri menyadari selalu menyusahkan wanita tersebut. Tidak dapat dipungkiri, kehidupan dirinya tidak sesukses kakak-kakaknya.

***

Pagi ini ibu terlihat begitu kaget melihat suatu pemandangan yang tidak biasa. Chairul begitu bersemangat membereskan rumah. Pagar rumah yang agak rusak sudah Chairul perbaiki dengan cepat. Kebun di depan rumah tampak bersih. Tidak biasanya Chairul seperti itu. Biasanya dia selalu tidur seharian bila di rumah ibu. Entah kenapa ada tekad baru dalam hati Chairul. Mulai, saat ini Chairul ingin betul-betul membahagiakan ibunya. Dia ingin membangkitkan kembali gairah hidupnya yang hampir terkikis. Walaupun Chairul tidak bisa berbuat banyak, tapi dia akan terus berusaha.

“Nak, jujur ibu sangat senang melihat kau seperti ini.” Seru ibu sambil memperhatikan Chairul yang sedang menyapu di halaman rumah.

“Ah, ibu. Mumpung Chairul lagi rajin nih.”

“Oh, ya nak. Bagaimana rencana ke depanmu nanti?”

“Besok Chairul mau pergi lagi ke Jakarta. Chairul janji mau sungguh-sungguh bekerja disana.”

“Yakin mau ke Jakarta lagi?”

“Kalau saya disini terus, Chairul mau kerja apa bu? Chairul gak mau jadi pengangguran.”

“Ya baguslah kalau begitu. Giatlah kamu dalam bekerja, kelak kalau sudah mapan kamu carilah jodoh. Menurut ibu, Halimah cocok buat kamu, nak. Lupakan saja Sri. Ibu Halimah itu lebih baik daripada Sri”

“Ibu ini, kayak yang udah ketemu Sri aja.”

“Pokoknya ibu yakin, Halimah lebih baik. Dia dekat dengan ibu, dan ibu tahu betul dia itu orangnya bagaimana.”

***

Mata Chairul terus tertuju pada jendela bis. Warna langit terlihat memasuki senja. Disana-sini yang terlihat adalah area pesawahan. Tiba-tiba benaknya teringat pada apa yang dikatakan ibunya sewaktu kemarin. Chairul tersenyum. Semangat untuk bekerja begitu membuncah. Dia pun teringat dengan sosok Halimah. Perempuan berkerudung itu adalah adik kelasnya sewaktu SMP.

Saran dari ibu insya Allah akan aku penuhi, bisik hati Chairul.

Tiba-tiba telepon genggam Chairul bergetar. SMS dari sepupunya. Setelah membaca SMS tersebut, hatinya terpukul. Ibu meninggal.



 
Leave a comment

Posted by on October 15, 2010 in cerpen, Uncategorized