RSS

Pertemuan Terakhir di Kala Pagi

15 Oct

Siang kali ini begitu panas. Orang-orang yang ada di dalam angkutan umum tak ubahnya seperti kue-kue yang berjejer di dalam oven. Mereka semua terdiam berdesak-desakan. Chairul berulangkali mengusap keningnya yang bercucuran keringat. Kemudian dia mengikat rambut ikalnya yang agak gondrong.

Pikiran Chairul berjalan tak tentu arah. Akhir-akhir ini dia begitu merasa melankolis. Sebenarnya dia sangat malu harus pulang sekarang. Dia malu pada ibunya yang sudah renta. Tapi kota Jakarta seakan ingin mengusirnya. Seolah-olah orang yang tak berguna semacam dia tidaklah pantas untuk tinggal di kota besar itu. Dia merasa hidupnya telah hancur. Sri, orang yang selama ini dia harapkan akan menjadi istrinya kini telah menikah dengan orang lain. Kisah cintanya yang memilukan membuatnya tidak semangat lagi bekerja. Usaha dagangnya hancur. Kini uangnya sudah habis. Ongkos pulang pun dia dapatkan dari hasil menghutang kepada temannya.

Suasana kampung halaman tidak banyak berubah. Beberapa orang tampak menyapa Chairul dengan ramah. Suasana seperti ini membuat dirinya merasa sedikit terhibur, setidaknya orang-orang di kampung halamannya senang dengan kedatangan dirinya. Tiba-tiba dia berpapasan dengan seorang gadis. Gadis tersebut tampak malu-malu tersenyum padanya, tak lama kemudian menunduk dan langsung pergi. Chairul baru teringat siapa gadis itu. Dia adalah Halimah.

Kini Chairul berdiri di depan rumahnya yang sangat sederhana. Dia agak ragu untuk masuk. Namun pintu rumahnya tiba-tiba terkuak. Sosok yang selama ini dia rindukan kini ada di hadapannya. Dengan cepat dia memeluk ibunya.

***

Malam ini Chairul tidak bisa tidur sama sekali. Dia kemudian membuka jendela kamarnya. Suasana desa di malam ini begitu sepi. Sayup-sayup dia mendengar sesuatu di kamar sebelah. Rintihan doa ibunya cukup terdengar jelas ditelinganya.

Setelah cukup lama terdiam, dia tak kuasa membendung tangisnya. Dia baru menyadari kalau ibunya begitu sangat menyayanginya. Padahal dirinya sendiri menyadari selalu menyusahkan wanita tersebut. Tidak dapat dipungkiri, kehidupan dirinya tidak sesukses kakak-kakaknya.

***

Pagi ini ibu terlihat begitu kaget melihat suatu pemandangan yang tidak biasa. Chairul begitu bersemangat membereskan rumah. Pagar rumah yang agak rusak sudah Chairul perbaiki dengan cepat. Kebun di depan rumah tampak bersih. Tidak biasanya Chairul seperti itu. Biasanya dia selalu tidur seharian bila di rumah ibu. Entah kenapa ada tekad baru dalam hati Chairul. Mulai, saat ini Chairul ingin betul-betul membahagiakan ibunya. Dia ingin membangkitkan kembali gairah hidupnya yang hampir terkikis. Walaupun Chairul tidak bisa berbuat banyak, tapi dia akan terus berusaha.

“Nak, jujur ibu sangat senang melihat kau seperti ini.” Seru ibu sambil memperhatikan Chairul yang sedang menyapu di halaman rumah.

“Ah, ibu. Mumpung Chairul lagi rajin nih.”

“Oh, ya nak. Bagaimana rencana ke depanmu nanti?”

“Besok Chairul mau pergi lagi ke Jakarta. Chairul janji mau sungguh-sungguh bekerja disana.”

“Yakin mau ke Jakarta lagi?”

“Kalau saya disini terus, Chairul mau kerja apa bu? Chairul gak mau jadi pengangguran.”

“Ya baguslah kalau begitu. Giatlah kamu dalam bekerja, kelak kalau sudah mapan kamu carilah jodoh. Menurut ibu, Halimah cocok buat kamu, nak. Lupakan saja Sri. Ibu Halimah itu lebih baik daripada Sri”

“Ibu ini, kayak yang udah ketemu Sri aja.”

“Pokoknya ibu yakin, Halimah lebih baik. Dia dekat dengan ibu, dan ibu tahu betul dia itu orangnya bagaimana.”

***

Mata Chairul terus tertuju pada jendela bis. Warna langit terlihat memasuki senja. Disana-sini yang terlihat adalah area pesawahan. Tiba-tiba benaknya teringat pada apa yang dikatakan ibunya sewaktu kemarin. Chairul tersenyum. Semangat untuk bekerja begitu membuncah. Dia pun teringat dengan sosok Halimah. Perempuan berkerudung itu adalah adik kelasnya sewaktu SMP.

Saran dari ibu insya Allah akan aku penuhi, bisik hati Chairul.

Tiba-tiba telepon genggam Chairul bergetar. SMS dari sepupunya. Setelah membaca SMS tersebut, hatinya terpukul. Ibu meninggal.



 
Leave a comment

Posted by on October 15, 2010 in cerpen, Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: