RSS

Aku dan Secangkir Kopi

20 Oct

Semburat cahaya matahari di kota Yogyakarta begitu menyejukan. Hawa pagi ini terasa begitu sama dengan apa yang kualami beberapa tahun silam. Beberapa anak kecil tampak sudah mengayuh sepedanya untuk pergi ke sekolah. Seorang ibu penjual gudeg tampak bersiap-siap menuju tempat dagangannya. Kota Yogya memang banyak memberikanku kenangan, kenangan indah tepatnya.

Setelah cukup lama terdiam di depan jendela, aku melangkah ke dapur. Mataku tertuju pada sebuah cangkir berwarna putih tulang. Cangkir itu biasa digunakan almarhum kakek untuk menikmati kopi hitam kesukaannya. Aku dan kakek sama-sama menyukai kopi. Kakek menyukai kopi hitam tanpa gula, sedangkan aku menyukai kopi yang dicampur dengan krimmer. Kopi banyak berjasa padaku, kopi telah mendekatkan hubunganku dengan almarhum kakek. Aku dan kakek bisa mengobrol berjam-jam sambil menikmati kopi.

Hal terindah saat aku dengan kakek adalah ketika menikmati kopi ketika pagi hari di suatu puncak. Menikmati kopi, mengobrol, sambil sesekali membidikkan kamera memberikan suatu sensasi tersendiri. Aku seringkali membicarakan keinginanku untuk menjadi seorang fotografer pada kakek. Aku selalu bersemangat kalau membicarakan hal itu. Sedangkan kakek selalu bersemangat menceritakan pejuang-pejuang kemerdekaan ketika zaman dulu. Namun beliau bisa terlihat marah kalau membicarakan tentang politik dan pemerintahan.
Yogyakarta, kopi, almarhum kakek, fotografi adalah hal-hal yang selama ini aku rindukan. Bertahun-tahun tinggal di Jakarta untuk menimba ilmu di kedokteran membuat diriku agak stress. Sampai saat ini aku belum juga lulus, sedangkan teman-temanku yang seangkatan baru saja lulus. Hal itu membuatku semakin tidak bersemangat untuk masuk kuliah. Meskipun orangtuaku selalu memotivasiku untuk tetap bertahan, aku malah merasa semakin tertekan. Sudah kukatakan berulangkali pada mereka, aku berbeda dengan kakak-kakakku yang kini bekerja sebagai dokter.
HP-ku tiba-tiba bergetar. Ada SMS dari seorang teman lamaku.
***
“Assalamu’alaikum, Pak Dokter! Wah-wah tambah ganteng aja sekarang, hahahaha!” Dimas menjabat tanganku dengan erat dan kemudian menepuk-nepuk pundakku.
“Wa’alaikumsalam. Dimas, Dimas kau ini bisa saja. Aku belum lulus, bro!”
Menikmati kopi dengan teman lamaku di pagi ini membuatku sangat senang. Dimas sengaja berkunjung ke rumahku, kami sudah bertahun-tahun lamanya tidak bertemu.
“Aku juga belum lulus, zal. Kemaren sempat cuti seta…” tiba-tiba Dimas berhenti berbicara saat dia melihat layar laptopku.
“Kenapa?” tanyaku heran sambil ikut melihat layar laptopku.
“Bro, ini foto-foto hasil karyamu?” dengan semangat Dimass mengambil laptopku.
“Iya. Memangnya kenapa?”
“Jujur, aku suka karya-karyamu yang semakin bagus. Meskipun aku awam tentang fotografi, tapi aku tahu di setiap foto-fotomu mengandung sebuah pesan. Foto-fotomu berkarakter dan bisa menimbulkan kesan yang kuat pada orang yang melihatnya.”
“Masa sih?”
“Beneran! Kebetulan kampusku akan mengadakan lomba fotografi, pokoknya kamu harus ikut, Zal! Jangan lewatkan kesempatan ini. ” ujar Dimas yang tampak begitu bersemangat sambil sesekali menyeruput kopinya.

***

Sudah lima bulan aku tinggal di Yogya. Kuliah benar-benar aku tinggalkan. Aku sudah terlanjur betah tinggal di Yogya, menikmati hidup dengan kerja serabutan dan sekolah fotografi. Uang dari hasil lomba sudah habis, sekolah fotografi mahalnya bukan main.

Banyak hal yang aku sesalkan dalam hidup ini. Aku terlalu banyak mengecewakan orang tua, aku tidak bisa memenuhi apa yang mereka inginkan. Sudah banyak biaya yang mereka keluarkan untuk menyekolahkanku di kedokteran. Tapi inilah jalan yang kupilih. Pernah menjuarai lomba fotografi mungkin bisa membuat mereka sedikit bangga. Hidup mandiri dan sekolah fotografi dengan biaya sendiri mungkin bisa membuat mereka sedikit percaya padaku.

***

1 tahun kemudian
Dimas tersinyum simpul saat membuka foto album pernikahannya. Dia menepuk pundakku dengan semangat dan berkata:
“Semoga studio fotomu senantiasa sukses, Bro! Suatu saat nanti kita ngopi bareng lagi ya”

By Trisma Oktavia
Tasikmalaya, 20-10-2010

 
5 Comments

Posted by on October 20, 2010 in cerpen

 

5 responses to “Aku dan Secangkir Kopi

  1. nur

    October 20, 2010 at 3:11 am

    NOVEL apa cerpen ini??? wkwkwk

     
    • trisma oktavia

      October 20, 2010 at 3:18 am

      emang napa kalao cerpen? kepanjangan cuy? wkwkw

       
      • nur

        October 20, 2010 at 4:16 am

        hehehe good good dood

         
  2. arenaz

    October 20, 2010 at 3:13 am

    tuk sbagian 0rang kopi adalah inspirasi..

     
    • trisma oktavia

      October 20, 2010 at 3:20 am

      termasuk sayah..😀 trims dah berkunjung ke blog aye..

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: