RSS

Category Archives: cerpen

Aku dan Secangkir Kopi

Semburat cahaya matahari di kota Yogyakarta begitu menyejukan. Hawa pagi ini terasa begitu sama dengan apa yang kualami beberapa tahun silam. Beberapa anak kecil tampak sudah mengayuh sepedanya untuk pergi ke sekolah. Seorang ibu penjual gudeg tampak bersiap-siap menuju tempat dagangannya. Kota Yogya memang banyak memberikanku kenangan, kenangan indah tepatnya.

Setelah cukup lama terdiam di depan jendela, aku melangkah ke dapur. Mataku tertuju pada sebuah cangkir berwarna putih tulang. Cangkir itu biasa digunakan almarhum kakek untuk menikmati kopi hitam kesukaannya. Aku dan kakek sama-sama menyukai kopi. Kakek menyukai kopi hitam tanpa gula, sedangkan aku menyukai kopi yang dicampur dengan krimmer. Kopi banyak berjasa padaku, kopi telah mendekatkan hubunganku dengan almarhum kakek. Aku dan kakek bisa mengobrol berjam-jam sambil menikmati kopi.

Hal terindah saat aku dengan kakek adalah ketika menikmati kopi ketika pagi hari di suatu puncak. Menikmati kopi, mengobrol, sambil sesekali membidikkan kamera memberikan suatu sensasi tersendiri. Aku seringkali membicarakan keinginanku untuk menjadi seorang fotografer pada kakek. Aku selalu bersemangat kalau membicarakan hal itu. Sedangkan kakek selalu bersemangat menceritakan pejuang-pejuang kemerdekaan ketika zaman dulu. Namun beliau bisa terlihat marah kalau membicarakan tentang politik dan pemerintahan.
Yogyakarta, kopi, almarhum kakek, fotografi adalah hal-hal yang selama ini aku rindukan. Bertahun-tahun tinggal di Jakarta untuk menimba ilmu di kedokteran membuat diriku agak stress. Sampai saat ini aku belum juga lulus, sedangkan teman-temanku yang seangkatan baru saja lulus. Hal itu membuatku semakin tidak bersemangat untuk masuk kuliah. Meskipun orangtuaku selalu memotivasiku untuk tetap bertahan, aku malah merasa semakin tertekan. Sudah kukatakan berulangkali pada mereka, aku berbeda dengan kakak-kakakku yang kini bekerja sebagai dokter.
HP-ku tiba-tiba bergetar. Ada SMS dari seorang teman lamaku.
***
“Assalamu’alaikum, Pak Dokter! Wah-wah tambah ganteng aja sekarang, hahahaha!” Dimas menjabat tanganku dengan erat dan kemudian menepuk-nepuk pundakku.
“Wa’alaikumsalam. Dimas, Dimas kau ini bisa saja. Aku belum lulus, bro!”
Menikmati kopi dengan teman lamaku di pagi ini membuatku sangat senang. Dimas sengaja berkunjung ke rumahku, kami sudah bertahun-tahun lamanya tidak bertemu.
“Aku juga belum lulus, zal. Kemaren sempat cuti seta…” tiba-tiba Dimas berhenti berbicara saat dia melihat layar laptopku.
“Kenapa?” tanyaku heran sambil ikut melihat layar laptopku.
“Bro, ini foto-foto hasil karyamu?” dengan semangat Dimass mengambil laptopku.
“Iya. Memangnya kenapa?”
“Jujur, aku suka karya-karyamu yang semakin bagus. Meskipun aku awam tentang fotografi, tapi aku tahu di setiap foto-fotomu mengandung sebuah pesan. Foto-fotomu berkarakter dan bisa menimbulkan kesan yang kuat pada orang yang melihatnya.”
“Masa sih?”
“Beneran! Kebetulan kampusku akan mengadakan lomba fotografi, pokoknya kamu harus ikut, Zal! Jangan lewatkan kesempatan ini. ” ujar Dimas yang tampak begitu bersemangat sambil sesekali menyeruput kopinya.

***

Sudah lima bulan aku tinggal di Yogya. Kuliah benar-benar aku tinggalkan. Aku sudah terlanjur betah tinggal di Yogya, menikmati hidup dengan kerja serabutan dan sekolah fotografi. Uang dari hasil lomba sudah habis, sekolah fotografi mahalnya bukan main.

Banyak hal yang aku sesalkan dalam hidup ini. Aku terlalu banyak mengecewakan orang tua, aku tidak bisa memenuhi apa yang mereka inginkan. Sudah banyak biaya yang mereka keluarkan untuk menyekolahkanku di kedokteran. Tapi inilah jalan yang kupilih. Pernah menjuarai lomba fotografi mungkin bisa membuat mereka sedikit bangga. Hidup mandiri dan sekolah fotografi dengan biaya sendiri mungkin bisa membuat mereka sedikit percaya padaku.

***

1 tahun kemudian
Dimas tersinyum simpul saat membuka foto album pernikahannya. Dia menepuk pundakku dengan semangat dan berkata:
“Semoga studio fotomu senantiasa sukses, Bro! Suatu saat nanti kita ngopi bareng lagi ya”

By Trisma Oktavia
Tasikmalaya, 20-10-2010

Advertisements
 
5 Comments

Posted by on October 20, 2010 in cerpen

 

Pertemuan Terakhir di Kala Pagi

Siang kali ini begitu panas. Orang-orang yang ada di dalam angkutan umum tak ubahnya seperti kue-kue yang berjejer di dalam oven. Mereka semua terdiam berdesak-desakan. Chairul berulangkali mengusap keningnya yang bercucuran keringat. Kemudian dia mengikat rambut ikalnya yang agak gondrong.

Pikiran Chairul berjalan tak tentu arah. Akhir-akhir ini dia begitu merasa melankolis. Sebenarnya dia sangat malu harus pulang sekarang. Dia malu pada ibunya yang sudah renta. Tapi kota Jakarta seakan ingin mengusirnya. Seolah-olah orang yang tak berguna semacam dia tidaklah pantas untuk tinggal di kota besar itu. Dia merasa hidupnya telah hancur. Sri, orang yang selama ini dia harapkan akan menjadi istrinya kini telah menikah dengan orang lain. Kisah cintanya yang memilukan membuatnya tidak semangat lagi bekerja. Usaha dagangnya hancur. Kini uangnya sudah habis. Ongkos pulang pun dia dapatkan dari hasil menghutang kepada temannya.

Suasana kampung halaman tidak banyak berubah. Beberapa orang tampak menyapa Chairul dengan ramah. Suasana seperti ini membuat dirinya merasa sedikit terhibur, setidaknya orang-orang di kampung halamannya senang dengan kedatangan dirinya. Tiba-tiba dia berpapasan dengan seorang gadis. Gadis tersebut tampak malu-malu tersenyum padanya, tak lama kemudian menunduk dan langsung pergi. Chairul baru teringat siapa gadis itu. Dia adalah Halimah.

Kini Chairul berdiri di depan rumahnya yang sangat sederhana. Dia agak ragu untuk masuk. Namun pintu rumahnya tiba-tiba terkuak. Sosok yang selama ini dia rindukan kini ada di hadapannya. Dengan cepat dia memeluk ibunya.

***

Malam ini Chairul tidak bisa tidur sama sekali. Dia kemudian membuka jendela kamarnya. Suasana desa di malam ini begitu sepi. Sayup-sayup dia mendengar sesuatu di kamar sebelah. Rintihan doa ibunya cukup terdengar jelas ditelinganya.

Setelah cukup lama terdiam, dia tak kuasa membendung tangisnya. Dia baru menyadari kalau ibunya begitu sangat menyayanginya. Padahal dirinya sendiri menyadari selalu menyusahkan wanita tersebut. Tidak dapat dipungkiri, kehidupan dirinya tidak sesukses kakak-kakaknya.

***

Pagi ini ibu terlihat begitu kaget melihat suatu pemandangan yang tidak biasa. Chairul begitu bersemangat membereskan rumah. Pagar rumah yang agak rusak sudah Chairul perbaiki dengan cepat. Kebun di depan rumah tampak bersih. Tidak biasanya Chairul seperti itu. Biasanya dia selalu tidur seharian bila di rumah ibu. Entah kenapa ada tekad baru dalam hati Chairul. Mulai, saat ini Chairul ingin betul-betul membahagiakan ibunya. Dia ingin membangkitkan kembali gairah hidupnya yang hampir terkikis. Walaupun Chairul tidak bisa berbuat banyak, tapi dia akan terus berusaha.

“Nak, jujur ibu sangat senang melihat kau seperti ini.” Seru ibu sambil memperhatikan Chairul yang sedang menyapu di halaman rumah.

“Ah, ibu. Mumpung Chairul lagi rajin nih.”

“Oh, ya nak. Bagaimana rencana ke depanmu nanti?”

“Besok Chairul mau pergi lagi ke Jakarta. Chairul janji mau sungguh-sungguh bekerja disana.”

“Yakin mau ke Jakarta lagi?”

“Kalau saya disini terus, Chairul mau kerja apa bu? Chairul gak mau jadi pengangguran.”

“Ya baguslah kalau begitu. Giatlah kamu dalam bekerja, kelak kalau sudah mapan kamu carilah jodoh. Menurut ibu, Halimah cocok buat kamu, nak. Lupakan saja Sri. Ibu Halimah itu lebih baik daripada Sri”

“Ibu ini, kayak yang udah ketemu Sri aja.”

“Pokoknya ibu yakin, Halimah lebih baik. Dia dekat dengan ibu, dan ibu tahu betul dia itu orangnya bagaimana.”

***

Mata Chairul terus tertuju pada jendela bis. Warna langit terlihat memasuki senja. Disana-sini yang terlihat adalah area pesawahan. Tiba-tiba benaknya teringat pada apa yang dikatakan ibunya sewaktu kemarin. Chairul tersenyum. Semangat untuk bekerja begitu membuncah. Dia pun teringat dengan sosok Halimah. Perempuan berkerudung itu adalah adik kelasnya sewaktu SMP.

Saran dari ibu insya Allah akan aku penuhi, bisik hati Chairul.

Tiba-tiba telepon genggam Chairul bergetar. SMS dari sepupunya. Setelah membaca SMS tersebut, hatinya terpukul. Ibu meninggal.



 
Leave a comment

Posted by on October 15, 2010 in cerpen, Uncategorized

 

SEPUTIH HATI NAJWA 3

Kegelisahan Wulan langsung memudar ketika melihat keceriaan di wajah Najwa. Tangan kiri Najwa memegang erat sebuah boneka panda besar, sedangkan tangan kanannya memegang es krim coklat. Di belakang Najwa tampak Bagas yang membawa beberapa kantong plastik. Wulan kemudian bercakap-cakap sebentar dengan Bagas, setelah itu Bagas pun pergi.

“Tadi ngapain aja sama ayah, sayang? Jujur mama khawatir sama kamu!” ujar Wulan sambil membelai rambut Najwa.

“Tadi Najwa diajak main ke rumah ayah, terus belanja-belanja deh di mall!”

“Oh ya?”

“Iyaaa.. Ma, ternyata ayah sekarang berubah. Ayah sekarang baiiik banget sama Najwa. Terus ayah sekarang shalatnya rajin. Najwa senaangg!!” ungkap Najwa dengan ceria.

“Memang Najwa sudah gak marah lagi sama ayah?”

“Allah aja Maha Pemaaf, Ma. Masa Najwa, enggak. Malu donk Najwa sama Allah.”

Mendengar hal itu Wulan merasa takjub.

“Syukurlah.. Mama juga turut senang. Ucapkan Alhamdulillah..”

“Alhamdulillah.. Eh Ma, Najwa pengen ayah tinggal di  rumah. Sekarang Najwa gak mau Mama sama Ayah berpisah!”

Mendengar hal itu Wulan sangat kaget, dadanya berdegup kencang.

“Mm.. tadi Najwa dibelikan apa saja oleh ayah?” Wulan mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Tadi Najwa dibeliin baju-baju, boneka sama es krim!”

Wulan mencoba menyimak apa yang dikatakan Najwa. Wajar bila sekarang Bagas membelikan ini itu pada Najwa, toh Bagas dulu tidak pernah menafkahi keluarga, pikir Wulan.

***

Wulan tak bisa memungkiri apa yang sedang dia rasakan. Perlahan-lahan perasaan kagum muncul kepada Bagas. Rasa trauma itu semakin menjauh dari hati dan pikirannya. Bagas berbeda dari yang dulu. Akhlak Bagas yang sekarang santun dan sangat menyayangi Najwa membuat Wulan tak bisa menemukan alasan untuk menolak Bagas. Apalagi Najwa sangat berharap dirinya bisa bersatu lagi dengan Bagas. Wulan sudah mantap akan menerima kembali Bagas dan menolak ajakan ta’aruf dari kakaknya Indah.

***

“Ma, hari ini Najwa mau menginap di rumah ayah, boleh kan? Nanti siang ayah mau menjemput Najwa.” ungkap Najwa saat mau berangkat sekolah.

“Iya boleh, sayang.”

Tengah malam handphone Wulan berdering. Rupanya bibi yang menelepon. Wulan tampak sangat kaget menerima telepon dari bibinya tersebut.

***

Gelapnya malam tak menghalangi Wulan untuk terus berlari dan berlari, perasaannya sangat kacau dan gelisah. Tak lama kemudian tampak kerumunan orang berkumpul di depan suatu rumah yang tampak diselimuti api merah membara. Petugas pemadam kebakaran tampak sibuk berusaha memadamkan api.

Wulan tak bisa menahan diri, dia ingin masuk ke dalam rumah yang terbakar tersebut, namun orang-orang berusaha untuk menahannya. Akhirnya Wulan tak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa berdoa dan menangis.

Api ganas tersebut akhirnya padam. Wulan segera berlari menuju rumah kontrakan tersebut, orang-orang berusaha mencegah apa yang dilakukan Wulan tetapi Wulan tak peduli. Setelah lama mencari dia menemukan kursi roda Najwa. Disebelah kursi roda tersebut tampak sesosok orang yang sedang menelungkup. Mungkinkah itu Bagas? tanya Wulan pada dirinya sendiri. Wulan segera mendekati sosok tersebut. Sosok itu tampak memeluk seorang anak kecil.  Seakan-akan melindungi anak kecil tersebut dari kobaran api.

“Najwaaa!!” teriak Wulan.

Wulan segera melepas Najwa dari pelukan Bagas. Najwa tampak batuk-batuk dan tak berkata apapun. Najwa hanya menangis dan langsung memeluk mamanya. Najwa tak terluka sedikit pun namun Bagas terlihat mengalami luka yang sangat serius. Bagas mengorbankan dirinya untuk melindungi Najwa.

Dua hari dari peristiwa kebakaran tersebut Bagas meninggal, padahal rencananya minggu depan Najwa dan Bagas akan melangsungkan pernikahan.

Setelah kejadian itu Najwa jadi sering menangis, Najwa yang dulu selalu terlihat tegar kini tampak rapuh.

“Najwa, jangan sedih terus. Mama jadi ikut sedih dan jangan-jangan ayahmu disana jadi ikut sedih. Insya Allah, ayah kamu husnul khotimah. Yang terpenting kamu jadi anak yang sholehah, pinter, senang berbagi dan jangan lupa selalu mendoakan ayahmu, ya?” ujar Wulan sambil menghapus air mata Najwa.

Mendengar hal itu Najwa menghela nafas dengan berat.

***

Shalat magrib kali ini terasa begitu berbeda, begitu khusyuk dan sangat indah. Sesosok pria tampak mengimami Wulan dan Najwa. Setelah shalat magrib dan dizikir selesai, Wulan segera mencium tangan pria yang tak lain adalah suaminya. Wulan dan pria itu pun saling memandang, tampak pancaran cinta bersinar dari paras kedua orang tersebut. Najwa yang melihat hal itu tersenyum cekikikan.

Di luar hujan turun sangat deras, namun rumah terasa hangat. Sehangat cinta kasih keluarga tersebut.

Kini kehadiran Farhan yang merupakan kakak dari Indah membuat hidup Wulan dan Najwa semakin berwarna. Meskipun bagi Najwa, Bagas tak kan tergantikan oleh yang lain, namun Najwa percaya Farhan bisa menjadi suami yang baik untuk ibunya dan bisa menjadi ayah yang bisa membimbingnya ke arah yang lebih baik.

Alhamdulillah tamat ^_^

By Trisma Oktavia

 
Leave a comment

Posted by on February 8, 2010 in cerpen

 

SEPUTIH HATI NAJWA 2

Gang sempit yang dilewati Indah terasa begitu kumuh. Beberapa anak tampak berlari-lari dengan kencang, salah satu dari anak tersebut hampir saja menubruk Indah. Namun suasana terasa tampak berbeda ketika di depan suatu rumah. Rumah itu terlihat sederhana namun tampak rapih dan bersih. Indah yakin ini adalah rumah muridnya, Najwa.

Seorang perempuan tua menyambut kedatangan Indah dengan ramah dan mempersilakannya masuk. Tak lama kemudian datang Wulan sambil membawa secangkir teh manis.

“Bu, bagaimana keadaan Najwa? Suasana kelas agak sepi ketika Najwa tidak masuk kelas.” tanya Indah.

“Alhamdulillah kondisi Najwa udah agak baikan.”

“Boleh saya lihat Najwa?” tanya Indah lagi.

“Mmm.. bo.. boleh..” ungkap Wulan agak sedikit ragu.

Najwa tampak terbaring di tempat tidurnya, dia mencoba tersenyum menyambut kedatangan gurunya. Begitulah Najwa, anak yang murah senyum dan jarang mengeluh.

“Bu, suhu badan Najwa tinggi sekali. Harus segera dibawa ke dokter!”

“Tapi.. saya.. saya gak punya uang, neng.” Ungkap Wulan.

“Sudahlah, Bu. Itu urusan gampang.”

Wulan tak bisa memendam kesedihannya. Sepulang dari dokter, dia menceritakan apa yang telah dia alami kepada Indah. Kemarin, uangnya dicuri oleh seseorang. Wulan yakin pencuri uang itu adalah mantan suaminya, karena ibunya pernah berkata bahwa akhir-akhir ini mantan suaminya tersebut sering mengamati keadaan rumah. Wulan pun menceritakan bagaimana kehidupannya selama ini sebagai seorang single parent.

Indah menjadi lebih tahu sosok Wulan. Semakin lama dia semakin kagum pada perempuan tegar tersebut. Meski Wulan seorang single parent dia bisa mendidik Najwa menjadi seorang anak yang shalehah. Tiba-tiba timbul keinginan di hati Indah kalau Wulan menjadi bagian dari keluarganya. Indah ingin Wulan menjadi pendamping orang terdekatnya.

***

“Jadi dia yang mau kamu kenalkan sama kakakmu?” tanya Rina.

“Iya, memang kenapa?” ungkap Wulan.

“Cantik sih. Tapi…”

“Tapi kenapa? Jangan lihat dari penampilannya saja, tapi akhlaknya. Dia memang bukan aktivis dakwah, tapi Insya Allah, dia perempuan yang shalehah.”

“Terus apa kakakmu tidak keberatan dengan statusnya yang seorang janda?”

“Itu masalahnya. Aku belum tahu!”

***

“Apa?!?” ekspresi Wulan terlihat sangat kaget.

“Percayalah Wulan. Dia sudah berubah sekarang. Aku yang jadi tetangganya merasakan sekali perubahan sikapnya. Sekarang dia orang yang baik dan sangat aktif mengikuti kegiatan keagamaan.”

“Bi, jujur aku tidak mau memikirkan hal itu dulu!”

“Wulan, pikirkan anakmu Najwa. Dia butuh sosok ayah dalam hidupnya!”

Wulan menghela napas dengan berat. Rupanya bibinya tersebut tidak mampu merasakan apa yang selama ini dia rasakan. Rasa trauma yang mendalam itu masih melekat dalam diri Wulan. Mendengar nama Bagas di telinganya saja sudah membuat Wulan merinding, apalagi jika Bagas kembali menjadi suaminya.

“Percayalah Wulan, mana mungkin bibi membohongimu dan menjerumuskanmu!” Ucapnya untuk lebih meyakinkan lagi.

***

Wulan baru saja menerima telepon dari Indah. Apa yang diungkapkan Indah di telepon membuat Wulan benar-benar terkejut dan bingung. Kakaknya Indah ingin berta’aruf dengannya.

“Ya Rabbi, bila Engkau akan mengaruniakan aku seorang pendamping, aku ingin sesosok imam yang bisa membimbingku menjadi hamba-Mu yang lebih baik,  aku ingin sesosok ayah yang baik bagi Najwa. Namun, bila Engkau berkehendak lain, biarlah aku dengan kesendirianku menjadi hamba yang senantiasa mengharap cinta hanya kepada-Mu.” Lirih Wulan.

Bersambung ^_^

By Trisma Oktavia Pasha

 
Leave a comment

Posted by on February 5, 2010 in cerpen

 

CERPEN: SEPUTIH HATI NAJWA

Cahaya lampu di kamar Wulan terlihat temaram, wajah Najwa tak begitu jelas terlihat, yang Wulan tahu Najwa tampak terlihat tidur pulas. Air mata bening itu jatuh dari mata Wulan dengan sendirinya. Beginilah, setiap malam Wulan selalu menangis. Tak seorang pun yang tahu di setiap penghujung malam dia selalu menangis. Segala keresahan dan kesedihannya diadukan kepada Allah Yang Maha Mendengar. Setiap tengah malam, di setiap akhir shalatnya, dan disetiap dia ingat, dia selalu berdoa untuk anaknya Najwa.

Najwa, seorang anak yang cantik, matanya indah, bibirnya mungil. Wajahnya perpaduan antara ayah yang tampan dan ibunya yang cantik. Sayang, dia cacat, kakinya lumpuh.

Wulan sering tak habis pikir kenapa Najwa harus mempunyai ayah yang tidak bertanggung jawab. Hanya dua tahun rumah tangga Wulan bertahan. Dulu Bagas, suaminya, seorang pengangguran dan ringan tangan. Sifat Bagas yang pemalas dan pengangguran itu membuat Wulan harus kerja keras mencari nafkah untuk keluarga. Sedangkan tugas untuk mengawasi Najwa, Wulan percayakan pada Bagas. Ketika Najwa  berumur 1 tahun, Najwa jatuh dari tangga, hal itu terjadi  akibat kelalaian  ayahnya yang kurang mengawasi Najwa. Mungkin karena sudah tidak tahan mengurus anak yang cacat dan tergoda oleh wanita lain, Bagas dengan seenaknya menceraikan Wulan. Rasa sakit hati Wulan pada Bagas itu masih tertanam di hatinya, suatu hal yang sulit untuk bisa memaafkan sesosok Bagas.

Sekarang Najwa sudah menginjak 7 tahun. Wulan tahu sudah saatnya Najwa untuk masuk SD. Namun, ada sedikit ketakutan di hatinya, bisakah dia yang hanya bekerja sebagai badut karakter mampu membiayai sekolah Najwa? Apalagi ada tetangganya yang mengatakan Najwa lebih pantas untuk sekolah di SLB. Mendengar hal itu hati Wulan sakit, Najwa seorang anak yang cerdas, hanya saja dia cacat. Bagi Wulan tak layak kalau Najwa harus disekolahkan di SLB.

Tapi dia tahu, Allah Maha Kaya dan tak pernah lupa untuk selalu memberi rizki pada hamba-hamba-Nya. Bagaimanapun, dia harus bisa menyekolahkan Najwa.

***

Suasana tempat pendaftaran SD Cahaya tampak ramai, Wulan baru saja selesai mendaftarkan anaknya di sekolah tersebut. Tanpa sengaja Wulan berpapasan dengan seorang perempuan berjilbab biru muda. Tampaknya perempuan berjilbab itu seorang guru, usianya masih muda dan parasnya manis. Perempuan tersebut tersenyum ramah menyapa Wulan. Mereka pun kemudian bercakap-cakap. Dari percakapan tersebut, Wulan menjadi tahu bahwa perempuan itu bernama Indah, dan dia akan menjadi guru untuk anaknya.

Wulan tak bisa bercakap lama-lama dengan Indah, dia harus segera bekerja. Memakai kostum badut karakter Mickey Mouse dan menghibur anak-anak adalah pekerjaannya. Mencari kerja di ibu kota memanglah tidak mudah. Apalagi dia hanya lulusan SMA.

***

“Najwa, jangan sedih, ayo main aja sama ibu!” ujar Indah sambil mengelus kepala Najwa. Rupanya Indah merasa iba melihat Najwa yang terlihat sendirian di depan kelas, sedang teman-temannya yang  lain asyik bermain di lapangan.

“Najwa gak sedih kok, bu. Najwa udah biasa kayak gini. Teman-teman di dekat rumah Najwa juga gak mau main sama Najwa. Katanya gak seru main sama orang cacat. Teman Najwa cuma Mama dan Nenek. Ibu mau gak jadi teman Najwa?”

“Tentu sayang. Ibu senang temenan sama Najwa. Nanti teman-teman kelas kamu pasti mau temenan sama kamu, karena kamu orangnya baik.” seru Indah.

Najwa tersenyum mendengar penuturan Indah.

***

“Naj, ayo masuk ke rumah!” seru Bu Hartini.

“Kenapa, nek?” Najwa bertanya heran.

“Sebentar lagi Maghrib.” Ujarnya sambil mendorong kursi roda Najwa.

Perempuan berumur 60 tahunan itu segera menutup pintu rumah. Kemudian dia mengintip sesuatu dari balik tirai jendela.

“Aku Yakin itu Bagas. Hmm.. Ngapain juga dia terus mengamati rumah ini? Mana Wulan belum pulang lagi!”

Ada sedikit rasa trauma pada perempuan tua itu. Dulu, Bagas pernah tiba-tiba datang ke rumah. Lelaki itu langsung marah-marah dan meminta uang pada Wulan. Padahal Wulan bukan lagi istrinya. Bagas dan Wulan sempat bertengkar hebat. Najwa yang pernah melihat kejadian itu menjadi takut pada ayahnya sendiri.

“Ya Rabb, lindungilah kami..” lirih perempuan tua itu.

Bersambung… ^_^

 
Leave a comment

Posted by on January 31, 2010 in cerpen

 

CERPEN: SENJA DI MATA BAYU II

Nafas Bayu terdengar terengah-engah. Bajunya benar-benar basah kuyup.
“Kakak tidak akan tinggal disini lagi. Kakak harus pergi. Secepatnya!”ucap Bayu.
“Kenapa kak? Sekarang hujan turun sangat deras, kakak istirahat saja dulu” tanya Ehsan.
“Aku tahu. Kakak sedang dicari oleh sekelompok orang. Aku lihat foto kakak di koran.” ungkap Rahmat sambil memperlihatkan sebuah koran dalam genggamannya.
Bayu segera mengambil koran tersebut, ekspresi wajahnya berubah, antara sedih dan sesal.
“Pokoknya, kakak mau pergi dari sini!”
“Tunggu kak! Ehsan ikut.”
“Aku ikut!” ucap Rahmat.
“Aku juga ikut!” si pendiam Dodi ikut berbicara.
Akhirnya Bayu dan ketiga anak kecil tersebut keluar dari gubuk kumuh tempat mereka tinggal. Hujan yang turun sangat deras tidak menghalangi perjalanan mereka.

***
Suasana di rumah makan khas sunda itu terlihat ramai. Bayu termenung. 8 tahun sudah Bayu tinggal di Bekasi dan mengelola rumah makan ini. Meskipun Bayu hanya sekolah sampai kelas 1 SMA, tetapi dia sangat berbakat dalam berusaha, terutama di bidang waralaba. Sekarang dia cukup kaya dan dewasa. Saat ini umurnya 23 tahun. Ehsan, Rahmat dan Dodi masih setia tinggal bersama Bayu. Mereka layaknya sebuah keluarga.
Bayu menyadari, dia harus benar-benar berterima kasih kepada Pak Warman, sosok yang telah mengajarinya berbagai banyak hal, dari mulai ilmu memasak sampai ilmu agama. Namun sudah lama Bayu tidak bertemu dengan Pak Warman, semenjak dirinya pergi dari Kota Sukabumi.
Bayu kemudian membuka dompetnya, terlihat sebuah foto sepasang suami istri. Itu adalah foto orang tuanya. Perasaan Bayu terasa miris. Antara rindu dan malu. Rindu kepada ayah dan ibunya, tapi juga malu untuk kembali pada mereka. Bayu tahu, begitu gigih usaha orang tuanya untuk mencari dirinya. Sampai-sampai banyak yang mengincar dirinya, karena wajahnya pernah terpampang di suatu media cetak.
Tiba-tiba seorang pembeli datang menuju ke arahnya. Menyerahkan beberapa lembar uang. Bayu menerima uang tersebut. Namun ketika mau memberikan kembalian, uang di lacinya raib semua. Menghilang tanpa sisa.

***
Sudah seminggu Ehsan belum pulang juga. Bayu terlihat khawatir.
“Kakak jangan terlalu khawatir. Ehsan kan laki-laki. Insya Allah dia gak kenapa-napa.” Dodi mencoba menghibur Bayu.
“Gak tahu kenapa perasaan kakak gak enak. Kita kan sudah nyari dia kemana-mana. Tapi hasilnya?”
Dodi terdiam.
“Akhir-akhir ini banyak kejadian aneh. Uang kakak sering hilang seiring kelakuan Ehsan yang semakin aneh.” lanjut Bayu.
“Assalamu’alaikum.” Terdengar suara seseorang dari balik pintu rumah.
“Itu kan suara Ehsan! Wa.. wa wa’alaikumsalam..” Bayu segera berlari menuju pintu.

***

“Astaghfirullah..” teriak Rahmat.
“Ada apa?” seru Bayu sambil berlari menghampiri Rahmat.
Rahmat hanya terpaku di depan pintu kamar Ehsan.
Bayu segera memasuki kamar Ehsan. Alangkah kagetnya Bayu. Ehsan kejang-kejang dengan hebat. Tampak suatu cairan keluar dari mulut dan hidung Ehsan. Ehsan seperti tanpa sadar membentur-benturkan tubuhnya ke dinding.

***
Bayu terpaku melihat batu nisan itu. Matanya berkaca-kaca
“Sebelum semuanya terlambat, segera kembalilah ke orang tuamu.” Terdengar suara seseorang di belakangnya.
Bayu sangat kaget. Suara itu sangat dikenalnya. Suara Pak Warman!
“Pak Warman!!” Bayu segera mendekap pria separuh baya tersebut.
“Heh, bocah? Sekarang kamu sudah sebesar ini. Kenapa baru sekarang kembali ke kota Sukabumi? Seenaknya saja kamu kabur dari kota ini.”
“Maaf, Pak. Kan sekarang saya ada disini, sekalian menjalankan amanat dari Ehsan. Ehsan pernah bercerita, apabila dia meninggal, dia ingin dimakamkan di Sukabumi, tempat ayah dan ibunya di makamkan.”
“Oh ya, kok Pak Warman masih ingat dengan saya? Dulu saya kan masih kecil.” Lanjut Bayu.
“Ya jelas, saya masih ingat kamu. Tahi lalat di pipimu itu ciri khas sekali.”
“Pak, saya benar-benar menyesal. Saya gak bisa menjaga Ehsan dengan baik. Ehsan sudah saya anggap adik sendiri. Ehsan terjerumus dalam narkoba.”
“Sekarang kamu tahu kan rasanya kehilangan seseorang yang kamu cintai? Begitupun orang tuamu. Saya gak bisa membayangkan perasaan kedua orang tua yang kehilangan anaknya selama beberapa tahun.”

***
Tak banyak yang berubah dari keadaan rumah yang ada didepan Bayu. Langkahnya terasa berat. Namun akhirnya dia pun masuk ke rumah tersebut. Seorang wanita setengah baya tampak begitu kaget melihat kedatangan Bayu.

***
Perlahan Bayu mendorong kursi roda yang diduduki ibunya. Suasana senja kali ini begitu sejuk, namun kesejukan itu tak bisa dirasakan Bayu.
“Ayahmu suka sakit-sakitan semenjak kepergianmu. Dia merasa sangat bersalah sama kamu. Meski dalam keadaan sakit, dia selalu berusaha mencarimu. Karena kelelahan, akhirnya ayahmu sakit parah dan tidak bisa kemana-mana. Setahun yang lalu, ayahmu pun wafat.” Suara ibu Bayu terdengar lirih.
“Maafkan Bayu, bu.. maaf..” Bayu tak kuasa membendung tangisnya. Di dalam hatinya dia bertekad tidak akan mengulangi kesalahan terbesarnya. Dosanya begitu besar. Bukan hanya pada orang tua, tetapi kepada Rabb-nya.
Bayu pun kemudian menatap langit senja. Bayangan raut almarhum ayahnya seperti terlihat di langit senja tersebut. Hal itu membuat dia semakin sedih.
“Maafkan Bayu, ayah. Bayu sadar, begitu banyak kesalahan yang Bayu lakukan. Semoga ayah berada di tempat yang sebaik-baiknya di sisi Allah. Insya Allah, ibu akan aku selalu aku jaga. ..”

The end

^_^ (Trisma Oktavia Pasha)

 
3 Comments

Posted by on January 26, 2010 in cerpen

 

CERPEN: SENJA DI MATA BAYU I

Amarah Bayu benar-benar memuncak. Dia baru saja bertengkar dengan ayahnya. Setengah berlari Bayu menjauh dari rumah. Tangannya memegang erat gitar kesayangannya. Sebenarnya Bayu tak tahu kemana ia harus pergi, yang dia inginkan hanyalah menjauh dari rumahnya itu.
Dengan seenaknya Bayu memasuki salah satu bis. Beberapa jam dia terduduk di bis itu. Di benaknya terbayang pertengkaran yang telah terjadi dengan ayahnya. Gara-gara dia keasyikan main dan latihan band, ayahnya marah besar. Dan Bayu tidak menerima semua itu.
Bis pun berhenti. Bayu turun. Bayu benar-benar merasa asing di kota ini, kota Sukabumi. Dia melihat dompetnya, berjumlah Rp. 100.000,00.

***

Hari demi hari berlalu, Bayu masih bertahan di Sukabumi. Dia benar-benar seperti orang jalanan. Tidur di depan toko hanya dengan beralaskan kardus dan lama-lama Bayu mulai kenal dengan anak-anak jalanan di sekitar tempat itu.
Bayu melihat dompetnya, kosong tidak ada apa-apa. Padahal dia ingin pulang. Dia merindukan ibunya. Tapi, dia tidak ingin bertemu ayahnya.
“Kenapa, kak?” seorang anak kecil berbaju dekil bertanya keheranan melihat wajah Bayu yang terlihat murung.
“Kakak gak punya uang, Ehsan!”
“Sudahlah kak, kita ngamen aja yuk. Tuh, gitar kakak masa gak dimanfaatin sih?”
Itulah awal mula Bayu menjadi pengamen. Seharusnya dia ada di sekolah. Tapi dia lebih memilih untuk hidup keras di jalanan, mengamen dari bis ke bis dan tidur di tempat kumuh. Ehsan, Rahmat dan Dodi sangat setia menemani Bayu. Ketiga anak kecil itu sepertinya membutuhkan figur seorang kakak sekaligus orang tua, dan Bayu lah sepertinya yang pantas. Ketiga anak kecil itu pun termasuk anak-anak yang baik dibandingkan dengan anak jalanan lain yang berwatak keras, bandel membangkang dan suka mencuri.
Menjadi pengamen menjadi pekerjaannya sehari-hari. Suaranya yang merdu, membuat setiap penumpang merasa terhibur dan tidak segan memberikan uang, meskipun sebatas uang receh. Bayu memang termasuk anak band di SMA nya, dia menjadi vokalis dan tentunya untuk menjadi seorang pengamen itu bukanlah hal yang sulit.
Disaat kelelahan setelah mengamen, Bayu dan teman-teman kecilnya membeli makanan seadanya, dan makan bersama-sama. Meskipun hanya sebungkus nasi dan lauk pauk seadanya tapi sungguh terasa nikmat bila disantap bersama-sama.

***
Tidak puas sebagai pengamen, dia pun melamar menjadi pelayan sebuah warung makan tradisional. Dari koki warung makan tersebut, Bayu memperoleh banyak ilmu, tak hanya ilmu memasak tetapi juga ilmu agama. Pak Warman, nama dari koki tersebut.
Bila Bayu memiliki uang lebih, dia suka mencoba untuk memasak makanan ala Pak Warman, dan menyuruh Ehsan, Rahmat, dan Dodi untuk mecoba hasil masakannya. Ketiga anak kecil tersebut selalu mengacungkan jempol setelah mencoba masakan Bayu.

***
Bayu duduk terdiam di halaman masjid, Al-Qur’an kecilnya dimasukan ke saku baju. Bayu terlihat asik memandang langit yang dihiasi arakan awan yang putih. Semenjak akrab dengan Pak Warman, Bayu terlihat lebih religius. Setidaknya dia jadi lebih rajin shalat berjama’ah di mesjid, tak lupa dia mengajak Rahmat, Ehsan, dan Dodi untuk ikut shalat berjama’ah.
Bayu tak menyadari ada dua yang berbisik-bisik di dekatnya. Namun, lama-lama Bayu menyadari ada orang yang memperhatikannya terus dari tadi. Dia segera keluar dari masjid tersebut. Namun dua orang itu tetap mengikutinya. Perasaan Bayu menjadi tidak enak, akhirnya dia pun berlari.

 
2 Comments

Posted by on January 26, 2010 in cerpen