RSS

Monthly Archives: January 2010

CERPEN: SEPUTIH HATI NAJWA

Cahaya lampu di kamar Wulan terlihat temaram, wajah Najwa tak begitu jelas terlihat, yang Wulan tahu Najwa tampak terlihat tidur pulas. Air mata bening itu jatuh dari mata Wulan dengan sendirinya. Beginilah, setiap malam Wulan selalu menangis. Tak seorang pun yang tahu di setiap penghujung malam dia selalu menangis. Segala keresahan dan kesedihannya diadukan kepada Allah Yang Maha Mendengar. Setiap tengah malam, di setiap akhir shalatnya, dan disetiap dia ingat, dia selalu berdoa untuk anaknya Najwa.

Najwa, seorang anak yang cantik, matanya indah, bibirnya mungil. Wajahnya perpaduan antara ayah yang tampan dan ibunya yang cantik. Sayang, dia cacat, kakinya lumpuh.

Wulan sering tak habis pikir kenapa Najwa harus mempunyai ayah yang tidak bertanggung jawab. Hanya dua tahun rumah tangga Wulan bertahan. Dulu Bagas, suaminya, seorang pengangguran dan ringan tangan. Sifat Bagas yang pemalas dan pengangguran itu membuat Wulan harus kerja keras mencari nafkah untuk keluarga. Sedangkan tugas untuk mengawasi Najwa, Wulan percayakan pada Bagas. Ketika Najwa  berumur 1 tahun, Najwa jatuh dari tangga, hal itu terjadi  akibat kelalaian  ayahnya yang kurang mengawasi Najwa. Mungkin karena sudah tidak tahan mengurus anak yang cacat dan tergoda oleh wanita lain, Bagas dengan seenaknya menceraikan Wulan. Rasa sakit hati Wulan pada Bagas itu masih tertanam di hatinya, suatu hal yang sulit untuk bisa memaafkan sesosok Bagas.

Sekarang Najwa sudah menginjak 7 tahun. Wulan tahu sudah saatnya Najwa untuk masuk SD. Namun, ada sedikit ketakutan di hatinya, bisakah dia yang hanya bekerja sebagai badut karakter mampu membiayai sekolah Najwa? Apalagi ada tetangganya yang mengatakan Najwa lebih pantas untuk sekolah di SLB. Mendengar hal itu hati Wulan sakit, Najwa seorang anak yang cerdas, hanya saja dia cacat. Bagi Wulan tak layak kalau Najwa harus disekolahkan di SLB.

Tapi dia tahu, Allah Maha Kaya dan tak pernah lupa untuk selalu memberi rizki pada hamba-hamba-Nya. Bagaimanapun, dia harus bisa menyekolahkan Najwa.

***

Suasana tempat pendaftaran SD Cahaya tampak ramai, Wulan baru saja selesai mendaftarkan anaknya di sekolah tersebut. Tanpa sengaja Wulan berpapasan dengan seorang perempuan berjilbab biru muda. Tampaknya perempuan berjilbab itu seorang guru, usianya masih muda dan parasnya manis. Perempuan tersebut tersenyum ramah menyapa Wulan. Mereka pun kemudian bercakap-cakap. Dari percakapan tersebut, Wulan menjadi tahu bahwa perempuan itu bernama Indah, dan dia akan menjadi guru untuk anaknya.

Wulan tak bisa bercakap lama-lama dengan Indah, dia harus segera bekerja. Memakai kostum badut karakter Mickey Mouse dan menghibur anak-anak adalah pekerjaannya. Mencari kerja di ibu kota memanglah tidak mudah. Apalagi dia hanya lulusan SMA.

***

“Najwa, jangan sedih, ayo main aja sama ibu!” ujar Indah sambil mengelus kepala Najwa. Rupanya Indah merasa iba melihat Najwa yang terlihat sendirian di depan kelas, sedang teman-temannya yang  lain asyik bermain di lapangan.

“Najwa gak sedih kok, bu. Najwa udah biasa kayak gini. Teman-teman di dekat rumah Najwa juga gak mau main sama Najwa. Katanya gak seru main sama orang cacat. Teman Najwa cuma Mama dan Nenek. Ibu mau gak jadi teman Najwa?”

“Tentu sayang. Ibu senang temenan sama Najwa. Nanti teman-teman kelas kamu pasti mau temenan sama kamu, karena kamu orangnya baik.” seru Indah.

Najwa tersenyum mendengar penuturan Indah.

***

“Naj, ayo masuk ke rumah!” seru Bu Hartini.

“Kenapa, nek?” Najwa bertanya heran.

“Sebentar lagi Maghrib.” Ujarnya sambil mendorong kursi roda Najwa.

Perempuan berumur 60 tahunan itu segera menutup pintu rumah. Kemudian dia mengintip sesuatu dari balik tirai jendela.

“Aku Yakin itu Bagas. Hmm.. Ngapain juga dia terus mengamati rumah ini? Mana Wulan belum pulang lagi!”

Ada sedikit rasa trauma pada perempuan tua itu. Dulu, Bagas pernah tiba-tiba datang ke rumah. Lelaki itu langsung marah-marah dan meminta uang pada Wulan. Padahal Wulan bukan lagi istrinya. Bagas dan Wulan sempat bertengkar hebat. Najwa yang pernah melihat kejadian itu menjadi takut pada ayahnya sendiri.

“Ya Rabb, lindungilah kami..” lirih perempuan tua itu.

Bersambung… ^_^

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on January 31, 2010 in cerpen

 

CERPEN: SENJA DI MATA BAYU II

Nafas Bayu terdengar terengah-engah. Bajunya benar-benar basah kuyup.
“Kakak tidak akan tinggal disini lagi. Kakak harus pergi. Secepatnya!”ucap Bayu.
“Kenapa kak? Sekarang hujan turun sangat deras, kakak istirahat saja dulu” tanya Ehsan.
“Aku tahu. Kakak sedang dicari oleh sekelompok orang. Aku lihat foto kakak di koran.” ungkap Rahmat sambil memperlihatkan sebuah koran dalam genggamannya.
Bayu segera mengambil koran tersebut, ekspresi wajahnya berubah, antara sedih dan sesal.
“Pokoknya, kakak mau pergi dari sini!”
“Tunggu kak! Ehsan ikut.”
“Aku ikut!” ucap Rahmat.
“Aku juga ikut!” si pendiam Dodi ikut berbicara.
Akhirnya Bayu dan ketiga anak kecil tersebut keluar dari gubuk kumuh tempat mereka tinggal. Hujan yang turun sangat deras tidak menghalangi perjalanan mereka.

***
Suasana di rumah makan khas sunda itu terlihat ramai. Bayu termenung. 8 tahun sudah Bayu tinggal di Bekasi dan mengelola rumah makan ini. Meskipun Bayu hanya sekolah sampai kelas 1 SMA, tetapi dia sangat berbakat dalam berusaha, terutama di bidang waralaba. Sekarang dia cukup kaya dan dewasa. Saat ini umurnya 23 tahun. Ehsan, Rahmat dan Dodi masih setia tinggal bersama Bayu. Mereka layaknya sebuah keluarga.
Bayu menyadari, dia harus benar-benar berterima kasih kepada Pak Warman, sosok yang telah mengajarinya berbagai banyak hal, dari mulai ilmu memasak sampai ilmu agama. Namun sudah lama Bayu tidak bertemu dengan Pak Warman, semenjak dirinya pergi dari Kota Sukabumi.
Bayu kemudian membuka dompetnya, terlihat sebuah foto sepasang suami istri. Itu adalah foto orang tuanya. Perasaan Bayu terasa miris. Antara rindu dan malu. Rindu kepada ayah dan ibunya, tapi juga malu untuk kembali pada mereka. Bayu tahu, begitu gigih usaha orang tuanya untuk mencari dirinya. Sampai-sampai banyak yang mengincar dirinya, karena wajahnya pernah terpampang di suatu media cetak.
Tiba-tiba seorang pembeli datang menuju ke arahnya. Menyerahkan beberapa lembar uang. Bayu menerima uang tersebut. Namun ketika mau memberikan kembalian, uang di lacinya raib semua. Menghilang tanpa sisa.

***
Sudah seminggu Ehsan belum pulang juga. Bayu terlihat khawatir.
“Kakak jangan terlalu khawatir. Ehsan kan laki-laki. Insya Allah dia gak kenapa-napa.” Dodi mencoba menghibur Bayu.
“Gak tahu kenapa perasaan kakak gak enak. Kita kan sudah nyari dia kemana-mana. Tapi hasilnya?”
Dodi terdiam.
“Akhir-akhir ini banyak kejadian aneh. Uang kakak sering hilang seiring kelakuan Ehsan yang semakin aneh.” lanjut Bayu.
“Assalamu’alaikum.” Terdengar suara seseorang dari balik pintu rumah.
“Itu kan suara Ehsan! Wa.. wa wa’alaikumsalam..” Bayu segera berlari menuju pintu.

***

“Astaghfirullah..” teriak Rahmat.
“Ada apa?” seru Bayu sambil berlari menghampiri Rahmat.
Rahmat hanya terpaku di depan pintu kamar Ehsan.
Bayu segera memasuki kamar Ehsan. Alangkah kagetnya Bayu. Ehsan kejang-kejang dengan hebat. Tampak suatu cairan keluar dari mulut dan hidung Ehsan. Ehsan seperti tanpa sadar membentur-benturkan tubuhnya ke dinding.

***
Bayu terpaku melihat batu nisan itu. Matanya berkaca-kaca
“Sebelum semuanya terlambat, segera kembalilah ke orang tuamu.” Terdengar suara seseorang di belakangnya.
Bayu sangat kaget. Suara itu sangat dikenalnya. Suara Pak Warman!
“Pak Warman!!” Bayu segera mendekap pria separuh baya tersebut.
“Heh, bocah? Sekarang kamu sudah sebesar ini. Kenapa baru sekarang kembali ke kota Sukabumi? Seenaknya saja kamu kabur dari kota ini.”
“Maaf, Pak. Kan sekarang saya ada disini, sekalian menjalankan amanat dari Ehsan. Ehsan pernah bercerita, apabila dia meninggal, dia ingin dimakamkan di Sukabumi, tempat ayah dan ibunya di makamkan.”
“Oh ya, kok Pak Warman masih ingat dengan saya? Dulu saya kan masih kecil.” Lanjut Bayu.
“Ya jelas, saya masih ingat kamu. Tahi lalat di pipimu itu ciri khas sekali.”
“Pak, saya benar-benar menyesal. Saya gak bisa menjaga Ehsan dengan baik. Ehsan sudah saya anggap adik sendiri. Ehsan terjerumus dalam narkoba.”
“Sekarang kamu tahu kan rasanya kehilangan seseorang yang kamu cintai? Begitupun orang tuamu. Saya gak bisa membayangkan perasaan kedua orang tua yang kehilangan anaknya selama beberapa tahun.”

***
Tak banyak yang berubah dari keadaan rumah yang ada didepan Bayu. Langkahnya terasa berat. Namun akhirnya dia pun masuk ke rumah tersebut. Seorang wanita setengah baya tampak begitu kaget melihat kedatangan Bayu.

***
Perlahan Bayu mendorong kursi roda yang diduduki ibunya. Suasana senja kali ini begitu sejuk, namun kesejukan itu tak bisa dirasakan Bayu.
“Ayahmu suka sakit-sakitan semenjak kepergianmu. Dia merasa sangat bersalah sama kamu. Meski dalam keadaan sakit, dia selalu berusaha mencarimu. Karena kelelahan, akhirnya ayahmu sakit parah dan tidak bisa kemana-mana. Setahun yang lalu, ayahmu pun wafat.” Suara ibu Bayu terdengar lirih.
“Maafkan Bayu, bu.. maaf..” Bayu tak kuasa membendung tangisnya. Di dalam hatinya dia bertekad tidak akan mengulangi kesalahan terbesarnya. Dosanya begitu besar. Bukan hanya pada orang tua, tetapi kepada Rabb-nya.
Bayu pun kemudian menatap langit senja. Bayangan raut almarhum ayahnya seperti terlihat di langit senja tersebut. Hal itu membuat dia semakin sedih.
“Maafkan Bayu, ayah. Bayu sadar, begitu banyak kesalahan yang Bayu lakukan. Semoga ayah berada di tempat yang sebaik-baiknya di sisi Allah. Insya Allah, ibu akan aku selalu aku jaga. ..”

The end

^_^ (Trisma Oktavia Pasha)

 
3 Comments

Posted by on January 26, 2010 in cerpen

 

CERPEN: SENJA DI MATA BAYU I

Amarah Bayu benar-benar memuncak. Dia baru saja bertengkar dengan ayahnya. Setengah berlari Bayu menjauh dari rumah. Tangannya memegang erat gitar kesayangannya. Sebenarnya Bayu tak tahu kemana ia harus pergi, yang dia inginkan hanyalah menjauh dari rumahnya itu.
Dengan seenaknya Bayu memasuki salah satu bis. Beberapa jam dia terduduk di bis itu. Di benaknya terbayang pertengkaran yang telah terjadi dengan ayahnya. Gara-gara dia keasyikan main dan latihan band, ayahnya marah besar. Dan Bayu tidak menerima semua itu.
Bis pun berhenti. Bayu turun. Bayu benar-benar merasa asing di kota ini, kota Sukabumi. Dia melihat dompetnya, berjumlah Rp. 100.000,00.

***

Hari demi hari berlalu, Bayu masih bertahan di Sukabumi. Dia benar-benar seperti orang jalanan. Tidur di depan toko hanya dengan beralaskan kardus dan lama-lama Bayu mulai kenal dengan anak-anak jalanan di sekitar tempat itu.
Bayu melihat dompetnya, kosong tidak ada apa-apa. Padahal dia ingin pulang. Dia merindukan ibunya. Tapi, dia tidak ingin bertemu ayahnya.
“Kenapa, kak?” seorang anak kecil berbaju dekil bertanya keheranan melihat wajah Bayu yang terlihat murung.
“Kakak gak punya uang, Ehsan!”
“Sudahlah kak, kita ngamen aja yuk. Tuh, gitar kakak masa gak dimanfaatin sih?”
Itulah awal mula Bayu menjadi pengamen. Seharusnya dia ada di sekolah. Tapi dia lebih memilih untuk hidup keras di jalanan, mengamen dari bis ke bis dan tidur di tempat kumuh. Ehsan, Rahmat dan Dodi sangat setia menemani Bayu. Ketiga anak kecil itu sepertinya membutuhkan figur seorang kakak sekaligus orang tua, dan Bayu lah sepertinya yang pantas. Ketiga anak kecil itu pun termasuk anak-anak yang baik dibandingkan dengan anak jalanan lain yang berwatak keras, bandel membangkang dan suka mencuri.
Menjadi pengamen menjadi pekerjaannya sehari-hari. Suaranya yang merdu, membuat setiap penumpang merasa terhibur dan tidak segan memberikan uang, meskipun sebatas uang receh. Bayu memang termasuk anak band di SMA nya, dia menjadi vokalis dan tentunya untuk menjadi seorang pengamen itu bukanlah hal yang sulit.
Disaat kelelahan setelah mengamen, Bayu dan teman-teman kecilnya membeli makanan seadanya, dan makan bersama-sama. Meskipun hanya sebungkus nasi dan lauk pauk seadanya tapi sungguh terasa nikmat bila disantap bersama-sama.

***
Tidak puas sebagai pengamen, dia pun melamar menjadi pelayan sebuah warung makan tradisional. Dari koki warung makan tersebut, Bayu memperoleh banyak ilmu, tak hanya ilmu memasak tetapi juga ilmu agama. Pak Warman, nama dari koki tersebut.
Bila Bayu memiliki uang lebih, dia suka mencoba untuk memasak makanan ala Pak Warman, dan menyuruh Ehsan, Rahmat, dan Dodi untuk mecoba hasil masakannya. Ketiga anak kecil tersebut selalu mengacungkan jempol setelah mencoba masakan Bayu.

***
Bayu duduk terdiam di halaman masjid, Al-Qur’an kecilnya dimasukan ke saku baju. Bayu terlihat asik memandang langit yang dihiasi arakan awan yang putih. Semenjak akrab dengan Pak Warman, Bayu terlihat lebih religius. Setidaknya dia jadi lebih rajin shalat berjama’ah di mesjid, tak lupa dia mengajak Rahmat, Ehsan, dan Dodi untuk ikut shalat berjama’ah.
Bayu tak menyadari ada dua yang berbisik-bisik di dekatnya. Namun, lama-lama Bayu menyadari ada orang yang memperhatikannya terus dari tadi. Dia segera keluar dari masjid tersebut. Namun dua orang itu tetap mengikutinya. Perasaan Bayu menjadi tidak enak, akhirnya dia pun berlari.

 
2 Comments

Posted by on January 26, 2010 in cerpen